Kamis, 30 Juli 2015

Bab 8 (part-2)

“Tok...”

Satu tarikan nafas.

“Tok... tok...”

Dua tarikan nafas.

“Tok... tok... tok...”

Tiga tarikan nafas.

Demikian berturut-turut daun jendela sebuah gedung diketuk perlahan. Dari dalam gedung tidak terlihat da cahaya keluar, pada ketukan ke empat, seseorang membuka jendela dan dengan cepat satu sosok bayangan masuk ke dalam.

Setelah daun jendela ditutup, seseorang menyalakan lilin.

“Bun siauwtee... kenapa kau datang sendiri...? Apa yang terjadi dengan Sin koko?”, terdengar suara seorang wanita.

“Ah... Enso Wei...”, orang yang masuk ke dalam rumah itu terbata menjawab, dia tidak lain adalah Bun Te Kun.

“Bun siauwhiap, apakah yang kalian khawatirkan terjadi? Bagaimana dengan rekan-rekan yang lain?”, seorang wanita dengan raut wajah gagah bertanya, di sampingnya berdiri seorang lelaki berwajah lembut.

Pendekar lelaki dan wanita itu sepasang suami isteri pendekar. Can Hong Bok dan Tan Jiu Eng.

“Kami diserang... rekan yang lain... beberapa kehilangan nyawa, beberapa terpaksa mundur karena keadaan.”, jawab Bun Te Kun.

“Sin koko...”, Sin toanio mengeluh dan tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas, cepat pendekar wanita yang berdiri di sampingnya bergerak dan memapahnya untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia.

“Enso, jangan hilang harapan dulu, Sin toako masih hidup.”, buru-buru Bun Te Kun berkata.

“Bun siauwhiap, coba ceritakan yang terjadi. Dari rekan-rekan yang berangkat bersama kalian, siapa saja yang tidak selamat? Bagaimana dengan Teng totiang?”, Can Hong Bok bertanya.

Maka dengan singkat Bun Te Kun menceritakan semua yang baru saja terjadi, “Jadi enso harap jangan putus harapan, Sin toako masih hidup, meski lawan kita kali ini sungguh berat tapi siauwtee masih punya harapan, Sin toako bisa lolos dari maut.”

Untuk sejenak lamanya mereka yang mendengarkan cerita Bun Te Kun terdiam.

“Jadi apa rencana Bun siauwhiap sekarang?”, Can Hong Bok membuka mulut bertanya.

“Seperti yang diamanatkan Sin toako, aku akan mencari jalan untuk membawa enso dan Ceng Ji keluar dari kota raja.”, jawab Bun Te Kun.

“Hmm... sampai saat ini sepertinya musuh belum mencium keberadaan kita di rumah ini tetapi semakin lama kita menunggu bergerak semakin besar kemungkinan kita ketahuan.”, ujar Can Hong Bok.

“Besok..., jika enso setuju, besok kita keluar dari kota raja. Jalan, bekal, penyamaran dan segala persiapan yang lain sudah lama disiapkan Sin toako sebelumnya. Tidak ada gunanya menunda terlalu lama. Terus terang, lawan kali ini terlalu berat. Aku sendiri tidak memiliki keyakinan seratus persen.”, jawab Bun Te Kun.

Semua mata pun balik memandang ke arah Nyonya Sin yang masih termenung.

Hati-hati Tan Jiu Eng, isteri Can Hong Bok, bertanya, “Sin toanio..., bagaimana menurut pendapat Sin toanio?”

Nyonya muda yang sejak tadi diam termenung itu perlahan-lahan mengangkat kepala, “Bun siauwtee, dari ceritamu tadi, artinya kemungkinan besar, lawan yang kita hadapi sekarang adalah Hoo caysiang?”

“Benar...”, jawab Bun Te Kun.

Sin toanio terlihat jauh lebih tenang, berbeda dengan saat tadi pertama kali mendengar kabar buruk tentang penyergapan atas diri suaminya.

“Hmm... Baiklah kalau begitu kalian dengarkan baik-baik perkataanku. Besok pagi-pagi, aku mohon Can tayhiap dan Tan liuhiap bersedia mengantarkanku dan seorang kacung di sini yang seumuran dengan Ceng ji, ke rumah ayahku. Menunggu satu hari kemudian, kuminta Bun siauwhiap membawa Ceng ji keluar dari kota raja.”

“Tapi enso, pesan Sin toako...”, ujar Bun Te Kun berusaha menyela, namun dengan tegas Sin toanio mengangkat tangan.

“Dengar dulu penjelasanku. Pengaruh Hoo caysiang terlalu besar, membawa seorang wanita dan seorang anak melarikan diri dari kuntitan orang-orangnya bukan perkara mudah. Tetapi jika aku dan seorang anak terlihat pergi ke rumah ayahku, maka perhatian orang akan tertuju ke sana. Selain itu jauh lebih mudah bagi Bun siauwtee membawa seorang anak daripada membawa dua orang. Bukankah demikian?”

“Tapi jika terjadi sesuatu pada diri enso, bagaimana aku bertanggung jawab pada Sin toako?”

“Jika kau membawa kami berdua pergi, berapa persen keyakinanmu bisa membawa kami berdua selamat dari kejaran orang-orang Hoo caysiang?”, tanya Sin toanio.

Bun Te Kun tergagap sejenak, ketika dia membuka mulut hendak menjawab, Sin toanio sudah terlebih dahulu berkata, “Lagi pula, ayahku masih punya kedudukan dalam pemerintahan dan cukup paham masalah politik dalam kerajaan. Jika kami menggunakan kepala kami baik-baik, kesempatan ayahku untuk menyelamatkanku jauh lebih besar daripada kesempatanmu.”

“Kalaupun kemudian aku tidak selamat, hal itu pun tidak perlu terlalu disesalkan. Asalkan kematianku memberi kesempatan lebih besar bagi Ceng ji untuk selamat. Aku hanya seorang wanita lemah, kalaupun aku hendak mempelajari ilmu pedang untuk membalaskan sakit hati Sin toako, sudah terlambat.”

“Bun siauwtee, bukan aku sengaja hendak mempersulit dirimu, tapi coba kau pertimbangkan sendiri baik-baik rencanaku ini. Begitu Hoo caysiang tahu bahwa anak lelaki yang ikut denganku itu bukan Ceng ji, apa gunanya dia hendak menekan aku dan keluargaku lebih jauh? Hoo caysiang jelas bukan orang yang bergerak atas dasar emosi semata, tapi lebih pada perhitungan untung dan rugi. Paling banter dia hanya akan menugaskan seseorang untuk mengamati keluarga kami diam-diam. Dirimu dan Ceng ji-lah yang akan mendapatkan porsi perhatian lebih banyak, karena kalian berdualah ancaman yang sesungguhnya.”

“Selama kalian berdua menghilang dari kota raja, dia tidak perlu berbuat apa-apa terhadapku dan keluargaku. Aku dan keluargaku akan disimpan, sebagai persiapan jika dia perlu sandera untuk jika sewaktu-waktu Ceng ji antau Sin toako memunculkan diri.”

“Bagaimana jika Hoo caysiang hendak menawan enso untuk memaksa Sin toako atau aku untuk menyerahkan diri?”, tanya Bun Te Kun ragu-ragu.

“Hmm... kukira ayahku masih bisa mempunyai kedudukan dan lidah yang bisa diandalkan. Bicara untung rugi, kalau dia menekan seorang perempuan lemah dengan latar belakang yang baik, bukankah malah akan jadi pembicaraan orang? Padahal belum tentu juga berhasil memaksa kalian keluar. Bagi orang dengan kedudukan seperti dirinya, reputasi dan citra dirinya di depan orang sangatlah penting.”

“Kemudian yang paling penting yang harus kau pertimbangkan adalah, seberapa besar keyakinanmu bisa membawaku dan Ceng ji selamat dari kejaran anjing-anjing pemburu Hoo caysiang? Jika kau bisa menyelamatkan satu, namun karena terlalu serakah justru kehilangan dua, apakah kau masih bisa memandang muka Sin toako?”, jawab Sin toanio dengan tegas.

Bun Te Kun pun terdiam beberapa saat sebelum menghela nafas panjang. Dalam hati dia terkejut juga dengan sisi dari pribadi Sin toanio yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Selama ini dia hanya mengenalnya sebagai seorang isteri yang setia dan seorang ibu yang lemah lembut. Saat dia berdebat dengan Sin Hong Kui, tak pernah nyonya satu ini ikut bicara. Kalaupun dia mengajak bicara, tentu tentang hal-hal yang remeh. Siapa sangka, pada saat seperti ini, tiba-tiba nyonya muda itu bisa bicara dengan tegas dan memberikan pandangan yang tajam.

“Baiklah... kalau demikian pendapat enso, mau tidak mau aku harus menerimanya. Sejujurnya, aku pun harus mengakui kelebihan orang-orang kepercayaan Hoo caysiang.”, akhirnya Bun Te Kun menjawab.

“Baiklah kalau begitu, sebaiknya Bun siauwhiap sekarang segera beristirahat. Aku pun ingin minta permisi, beristirahat sejenak di kamarku.”, ujar Sin toanio.

“Silahkan enso dulu beristirahat.”, jawab Bun Te Kun.

Sin toanio mengangguk perlahan kemudian dengan langkah anggun berjalan masuk ke kamarnya. Barulah setelah pintu kamar tertutup, nyonya muda itu menangis sepuasnya dengan suara tertahan. Toh masih juga suara isaknya bisa tertangkap oleh telinga tajam Bun Te Kun, Can Hong Bok dan isterinya.

Tiga orang pendekar itu hanya bisa saling pandang, pelupuk mata Tan Jiu Eng pun mulai mengembang. Terbayang dalam benak pendekar wanita ini bagaimana seandainya hal itu terjadi pada dirinya.