Minggu, 28 Juli 2013

Bab III. Tuan Bian, Tuan Zheng dan Tuan Misterius (part-3)

Akhirnya hari pembukaan perguruan keluarga Deng pun datang, tetangga-tetangga berdatangan memberi ucapan selamat. Tuan Bian dan Yinghu datang, satu rombongan dengan Zheng Lingqi dan dua orang pengawalnya. Dari Sichuan datang pimpinan keluarga Deng di Sichuan, Deng Qingshan, ditemani 5 orang anggota keluarga Deng di Sichuan.

Semua diadakan dengan sederhana, tapi cukup meriah karena jumlah tamu yang cukup banyak.

12 orang yang dilatih secara khusus, memperlihatkan hasil latihan mereka di atas panggung. Memainkan tombak dan memamerkan jurus-jurus tendangan. Baik sendiri, berpasangan maupun tampil dalam sebuah barisan.

“Tidak buruk… tidak buruk…”, ujar salah seorang pengawal Tuan Zheng Lingqi.

“Ah tuan terlalu memuji, hanya permainan anak kecil saja. Sekedar untuk menghibur para tamu.”, jawab Bojing merendah.

“Tuan muda Deng terlalu merendah, aku sudah menjadi kepala penyelidik di Kota Shui Tou selama belasan tahun. Setiap pemuda yang mengenal sedikit kepandaian, tentu aku tahu nama dan latar belakangnya. 12 orang ini aku tak pernah dengar, jelas sebelum mereka bertemu dengan Tuan muda Deng, mereka tak mengenal sedikitpun ilmu silat.”, ujar Yinghu menyahut.

“Benarkah demikian? Hmm… jika demikian, artinya mereka memiliki guru yang pandai. Tuan Yinghu benar, Tuan muda Deng terlalu merendah.”, ujar pengawal Tuan Zheng Lingqi yang lain.

“Ah, tuan-tuan hanya memuji untuk menyenangkan hati saya saja”, jawab Bojing sambil tertawa lepas.

“Tuan muda Deng, dua orang pengawalku ini, yang seorang, Tuan Zhang Chang, pernah menjadi murid di Hoashan, yang seorang lagi, Tuan Zhou Chonglin, pernah membuka sebuah perguruan yang cukup ternama di ibukota. Keduanya dikenal sebagai pendekar-pendekar yang tak pernah bermanis mulut. Jadi jika mereka memuji Tuan muda Deng, aku jamin, pujian mereka bukanlah pujian kosong.”, ujar Tuan Zheng Lingqi memuji Bojing, sekaligus memperkenalkan kedua pengawalnya.

“Wah, sungguh beruntung Tuan Zheng mendapatkan bantuan dari pendekar-pendekar ternama. Aku pernah dengar Perguruan Hongleizhang (Hong/红= merah, Lei/雷 = petir, Zhang/掌=telapak/pukulan) pai, yang dipimpin seorang pendekar bermarga Zhou, apakah itu perguruan yang dimaksudkan?”, ujar Zhongheng.

“Benar sekali, Tuan Zhongheng rupanya memiliki pengetahuan yang luas, sampai-sampai perguruan kami yang kecil pun Tuan Zhong bisa mengetahuinya.”, kata Zhou Chonglin sambil merangkapkan tangan di depan dada.

“Tuan Zhou Chonglin terlalu merendah, siapa yang tidak pernah mendengar bagaimana Tuan Zhou dan anak muridnya dengan Hongsha Zhang (Hong/红= merah, Sha/沙=pasir, Zhang/掌=telapak), berhasil mengalahkan kekuatan gabungan dari empat perguruan lain di ibukota.”, jawab Zhongheng.

“Hahaha, sebuah kemenangan kecil tak berarti, toh akhirnya kami harus menyingkir pula dari ibukota.”, ujar Zhou Chonglin dengan senyum pahit.

“Ah… tidak benar jika dikatakan demikian, Tuan Zhou memilih menghindar untuk menghindari jatuhnya lebih banyak korban, hal itu tidak perlu disesalkan. Bagaimana pun juga Tuan Zhou dan anak murid tuan, sudah memperlihatkan kegemilangan yang tidak akan dilupakan orang.”, ujar Bojing cepat-cepat.

Untuk sekejap lamanya Zhou Chonglin menatap mata Bojing dan Zhongheng bergantian, mata tajam pendekar kawakan itu sudah sering mengamati muka orang, baik yang berkata-kata dengan tulus, maupun wajah penjilat. Jika tidak pandai menilai orang, sudah lama dia kehilangan nyawanya.

“Demikian pula gugurnya Zhou Xiaoxia (xiao/小=kecil/muda, xia/俠 =pendekar), meski tragis namun kisah kegagahannya sudah menggugah banyak jiwa pemuda, termasuk saya.”, ujar Bojing dengan tulus.

Wajah keras Zhou Chonglin pun terlihat melunak untuk beberapa saat lamanya, menyembunyikan rasa tercekat di tenggorokannya, Zhou Chonglin meraih secawan arak dan meminumnya. Tidak berani mengeluarkan suara, Zhou Chonglin menganggukkan kepala saja sebagai jawaban untuk Bojing dan Zhongheng. Zhou Xiaoxia yang disebut Bojing barusan adalah putera sulung Zhou Chonglin, Zhou Deming. Kemajuan perguruan Zhou Chonglin yang pesat di ibukota waktu itu, mengundang rasa iri beberapa perguruan besar yang sudah terlebih dahulu membuka perguruannya di sana.

Perkelahian kecil-kecilan antar murid pun, tidak bisa dihindari. Dari perkelahian kecil-kecilan dan terjadi sepenuhnya akibat emosi murid-murid yang masih muda, ternyata perselisihan menjadi semakin besar. Zhou Chonglin yang tidak merasa bersalah pun, bersikap terlalu keras dan tidak mau mengalah. Sementara guru-guru perguruan yang lain tak juga berusaha mencegah murid-murid mereka. Bahkan karena seringnya anak murid Zhou Chonglin memenangkan pertarungan, sehingga para pimpinan dari perguruan yang lain justru mendorong murid-muridnya untuk membuktikan bahwa perguruan mereka lebih baik dari perguruan Zhou Chonglin.

Persaingan tersembunyi pun terjadi antar perguruan, satu hal memimpin pada hal yang lain, hingga akhirnya terjadilah hal yang tidak diinginkan.

Entah disengaja atau tidak pada saat Zhou Chonglin dan murid pertamanya melakukan perjalanan ke propinsi lain untuk membuka cabang perguruan yang baru. Murid-murid utama dari 4 perguruan dalam jumlah yang cukup besar, datang ke perguruan Zhou Chonglin untuk merebut papan nama perguruan.

Tindakan ini sungguh di luar dugaan Zhou Chonglin, selama ini persaingan antar perguruan mereka terjadi di jalanan, antar murid dengan murid, sebuah perkelahian di jalanan, tanpa membawa-bawa nama perguruan. Selain itu dia pun tidak menduga bahwa lawan akan merendahkan dirinya sedemikian rupa sehingga dengan sengaja mencari waktu di mana dia sedang tidak ada di rumah. Justru isu yang didengar Zhou Chonglin adalah adanya usaha untuk menyewa pembunuh bayaran untuk mencederainya dalam perjalanannya ke luar propinsi.

Begitulah di saat Zhou Chonglin sedang tidak berada di tempat, perguruannya justru mendapatkan masalah besar.

Maka demi mempertahankan papan nama perguruan pun, murid-murid utama Zhou Chonglin harus bertarung dalam pertarungan satu lawan satu menghadapi lawan yang tangguh. 4 perguruan besar itu berhasil memupuk nama itu artinya mereka memiliki modal yang cukup, jika dalam sebuah perkelahian terkadang menang dan kadang kalah itu adalah sesuatu yang wajar. Apalagi semakin besar sebuah perguruan, tentu perhatian yang bisa diberikan untuk tiap-tiap muridnya makin berkurang.

Yang lebih celaka lagi adalah, mereka yang biasa mencari masalah di jalan, banyak bergaya dan suka memamerkan kepandaian, biasanya justru mereka yang kurang menonjol di dalam perguruannya sendiri. Hanya saja kekalahan mereka, tetap saja membawa nama buruk buat perguruan dan mengangkat nama perguruan Zhou Chonglin.

Kali ini yang datang adalah murid-murid utama, sudah jelas bobotnya berbeda. Satu per satu murid-murid utama Zhou Chonglin berhasil dikalahkan, meski dari pihak lawan juga tidak sedikit yang berhasil dikalahkan.

Akhirnya tinggal putera pertama Zhou Chonglin, Zhou Deming, yang tersisa, usianya baru 16 tahunan. Selain mewarisi bakat ayahnya, dia pun mewarisi watak keras ayahnya. Ibunya meninggal saat dia dilahirkan, bagi Zhou Deming, ayahnya adalah pusat dunianya. Berhasil mengalahkan seorang lawan, pada pertarungan satu lawan satu yang berikutnya Zhou Deming harus berusaha keras hanya untuk mempertahankan diri. Namun Zhou Deming yang berwatak keras tidak juga mau mengaku kalah, tak terbayangkan bagi pemuda itu, jika papan nama perguruan yang dibesarkan ayahnya, hari ini akan jatuh ke tangan orang.

Sudah beberapa kali pukulan keras lawan telak mengenai tubuhnya, namun Zhou Deming mengeraskan hati, menahan sakit sembari menanti kesempatan untuk menyarangkan serangan pamungkas yang dia simpan-simpan.

Sudah umum, jika seorang guru tidak mewariskan seluruh ilmunya pada murid-muridnya. Biasanya dia menyimpan untuk dirinya sendiri, juga untuk pewarisnya, satu atau dua jurus andalan. Demikian juga Zhou Chonglin, dia pun mengajarkan satu jurus serangan pamungkas pada Zhou Deming. Jurus yang tidak diajarkan pada murid-murid yang lain.

Lawan yang merasa berada di atas angin, mulai kehilangan kesabaran, karena lawannya yang masih muda tidak juga mau menyerah. Ingin cepat menyelesaikan pertarungan, dia pun menyerang bertubi-tubi, lupa pada pertahanan.

Pada satu saat, dia menyerang Zhou Deming dengan sebuah jurus gubahan dari jurus Huang long yao shen bai wei (Naga kuning bergulung dan mengibaskan ekor), sebuah tendangan berputar yang keras, mengarah ke kepala Zhou Deming. Terburu nafsu dan hilang kewaspadaan, pada saat menendang itu lawan pun lengah dan tidak memperhatikan bagaimana dia menggunakan jurus itu, sehingga menyisakan lubang pada pertahanannya. Sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Zhou Deming, yang dengan cepat menggunakan jurus simpanannya, sebuah gubahan dari jurus Hei hu chu wo (harimau hitam keluar dari sarang). Seperti namanya gerakan ini bergerak dari posisi bertahan, dengan pukulan disembunyikan di balik tubuh, kemudian bergerak cepat dalam sebuah pukulan lurus ke depan dengan menggunakan seluruh momentum yang terbangun, untuk menghasilkan pukulan mematikan.

Pukulan itu tiba, pada saat tubuh lawan bergerak maju mengikuti pergerakan kaki yang mengibas. Akibatnya benar-benar fatal. Pukulan Zhou Deming, menghantam dengan telak, mematahkan rusuk dan menggetarkan organ-organ dalam lawan.

Lawan pun mati seketika itu juga.

Suasana pun menjadi semakin panas, emosi yang sejak tadi sudah berkobar, sekarang seperti api yang ditambah dengan minyak. Setiap orang sudah kehilangan pengamatan diri. Meski tata cara dunia persilatan masih dipegang, tapi tidak ada lagi pikiran untuk menahan-nahan tenaga, yang ada adalah dendam.

Keadaan Zhou Deming sudah payah, lawan yang menantang masih ada beberapa orang. Dalam keadaan diamuk dendam, mana mau mereka meringankan tekanan.

“Bagus…! Hebat ! Masih muda sudah memiliki kepandaian, aku sayang melihatmu membuang nyawa, kau mundurlah saja, biarkan kami membawa papan nama perguruan.”, ujar seorang dari mereka sambil berjalan maju ke tengah arena.

Wajahnya merah padam menahan marah, baru saja dia memeriksa tubuh saudara seperguruannya yang sudah putus nafasnya. Meski di mulut dia berkata sayang, tapi sorot matanya penuh hawa pembunuhan. Murid-murid Zhou Chongling bisa merasakan keadaan yang semakin genting, salah seorang dari mereka pun menggamit tangan Zhou Deming dan berbisik.

“Tuan muda, kita hentikan saja sekarang, saat ayah Tuan muda kembali, dia bisa merebut kembali papan nama perguruan.”

Mendengar saran itu wajah Zhou Deming pun merah membara, dengan sebat dia membalikkan badan dan tangannya bergerak cepat menampar wajah orang tersebut, “Pengecut! Sekian tahun kau berlatih, apa gunanya jika nyalimu tak lebih besar dari kedelai?”

“Tuan muda…”, berseru tertahan orang itu berusaha mencegah Zhou Deming berjalan ke tengah arena.

Namun perkataan yang hendak diucapkan tertahan di tenggorokan, sadar tak mungkin bisa mencegah Zhou Deming, khawatir ucapannya hanya akan membuat Zhou Deming semakin marah, orang itu pun berdiri tertegun diam, melihat Zhou Demin menyongsong lawan. Nama orang itu adalah Hongjian, Chen Hongjian. Hari itu, dia pun menghembuskan nafas terakhirnya, setelah menyusul maju menghadapi penantang yang mengalahkan dan melukai Zhou Deming. Murid-murid utama yang lainpun hanya bisa berduka dan menahan penghinaan lawan, saat mereka menurunkan dan membawa pergi papan nama perguruan mereka.

Zhou Deming sendiri mendapatkan luka dalam yang parah, setelah tiga hari lamanya demam, akhirnya dia pun menghembuskan nafas terakhirnya. Di saat-saat dia mendapatkan sedikit kesadaran, yang terucap adalah permintaan maaf pada saudara seperguruannya Chen Hojiang.

Bisa dibayangkan perasaan Zhou Chonglin saat dia pulang dari perjalanannya dari luar propinsi. 40 hari lamanya dia mengurung diri dalam perguruan bersama murid-muridnya. Para pimpinan dari 4 perguruan yang lain pun, menunggu dengan hati berdebar. Bagaimana pun juga matinya Zhou Deming dan Chen Hongjian adalah hasil dari emosi yang berkobar liar, saat emosi mulai mereda, perasaan menyesal mulai muncul.

Namun seperti biasa, saat perasaan menyesal muncul, dengan cepat pikiran pun bergerak, mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang disesali itu. Apalagi dari pihak mereka juga ada satu orang yang gugur. Tidak mungkin dalam keadaan demikian mereka berkata bahwa mereka sudah mengambil keputusan yang salah. Bagaimana dengan yang sudah mengorbankan nyawa untuk melaksanakan putusan itu? Apakah artinya dia mati sia-sia?

Sudah terlanjur basah, lebih baik mencebur sekalian. Papan nama perguruan Zhou Chonglin digantung di sebuah tiang, di tengah satu lapangan yang luas, menanti di sekelilingnya ada 4 guru besar itu bersama murid-murid utama mereka. Tantangan pada Zhou Chonglin pun disampaikan.

Inilah peristiwa yang tadi sempat disinggung Zhongheng, dalam sebuah pertarungan campur aduk tak karuan, antara perguruan Zhou Chonglin melawan 4 perguruan yang lain. Zhou Chonglin dan murid-muridnya berhasil keluar sebagai pemenang. 40 hari lamanya mengurung diri di dalam perguruan, Zhou Chonglin yang dipenuhi rasa marah, putus asa dan dendam, mengajarkan seluruh ilmunya pada murid-murid yang ada. Tak ada lagi jurus rahasia yang disimpan. Di lain pihak, para murid pun merasa malu dan menyesali diri atas kejadian yang terjadi saat Zhou Chonglin pergi, berlatih tanpa kenal lelah, dibakar oleh rasa dendam dan keinginan untuk menebus kesalahan.

Di lain pihak, pada 4 perguruan besar, terselip rasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Sejak awal mereka berangkat, sebenarnya tidak terpikir sedikitpun bahwa kejadian itu akan memakan korban jiwa. Kalaupun ada jatuh korban di pihak mereka, yang tersulut semangatnya hanya satu perguruan. Dan mereka ini pula yang terus mendesak untuk melakukan satu pertarungan terkahir untuk menyingkirkan Zhou Chonglin yang sekarang dirasa menjadi ancaman bagi diri mereka.

Demikianlah pada saat pertarungan itu terjadi, di satu pihak ada Zhou Chonglin dan murid-muridnya yang maju dengan semangat terbakar, di lain pihak adalah 4 perguruan lawan mereka dengan semangat yang digerogoti oleh rasa bersalah dan bertarung setengah hati.

Usai pertarungan itu dan membawa papan nama perguruan pulang, Zhou Chonglin dalam hati menyadari keadaan kedua belah pihak. Kata orang dunia persilatan, tinju dan pedang tidak bisa menyembunyikan perasaan. Dalam pertarungan itu semangat lawan yang dihantui perasaan bersalah, tersampaikan pula pada Zhou Chonglin, membuat Zhou Chonglin banyak merenung dan berpikir. Sadar bahwa dirinya pun ikut menyumbang dalam tragedi yang terjadi, dia memutuskan untuk membubarkan perguruan.

Hal ini juga dipengaruhi oleh perasaan putus asa dan kesedihan yang mendalam akibat kematian puteranya Zhou Deming.

Sejak itu Zhou Chonglin pun menghilang, sungguh di luar dugaan, ternyata dia menyembunyikan diri di sebuah kota kecil, menjadi pengawal seorang germo. Meski tidak terucap, dalam hati setiap orang terselip pertanyaan, dengan cara apa Zheng Lingqi bisa menarik seseorang bernama besar seperti Zhou Chonglin. Apalagi bagi Tuan Bian yang menjadi saingan Tuan Zheng, sungguh tak habis-habis rasa penasarannya kalaupun hendak dia padamkan dengan meneguk arak yang disajikan.

Sekilas pemikiran pun melintas dalam benak Bojing dan Zhongheng, jangan-jangan Zhou Chonglin justru adalah tuan misterius yang menjadi orang ketiga yang bermain di Kota Shui Tou ini.