Selasa, 26 Januari 2016

Bab 11, part-4

Beberapa jurus lama kemudian, Sin Cit Seng pun merampungkan latihannya, dengan segera dia membalikkan badan menghadap ke arah Tan piauwsu dan sambil menjura dia mengucapkan terima kasih, “Tan taihiap, terima kasih untuk petunjuknya.”

“Ha ha ha, aku hanya sekedar mengingatkan, tampaknya kau sudah memahami hal itu namun lupa.”, jawab Tan piauwsu sambil tertawa ramah.

Sin Cit Seng tidak mengiyakan atau pun menolak pujian Tan piauwsu itu, hanya berdiri dengan penuh hormat sambil menunggu perkataan lain dari Tan piauwsu. Dalam hati Sin Cit Seng berpikir, mengapa justru Tan piauwsu yang menjumpainya malam ini, padahal dia justeru sedang menunggu-nunggu Tan Siauw Lung. Apakah Tan Siauw Lung sudah membocorkan rahasianya pada Tan piauwsu? Meskipun di dalam hatinya dia berdebar-debar, di luar dia tampak tenang.

Sungguh tepat bila dikatakan kalau dengan api pandai besi menempa pedang, lewat kesukaran dan tekanan Sin Cit Seng tumbuh dewasa dalam wakktu singkat.

“Apakah kau mempelajari satu dua jurus yang lain dari ayahmu?”, Tan piauwsu yang mulai menyukai anak ini.

“Ada, siauwtee juga belajar sedikit Lohan Kun.”, jawab Sin Cit Seng dengan penuh semangat.

“Benarkah? Bagus sekali, coba tunjukkan.”, ujar Tan piauwsu ingin tahu.

“Baik”, jawab Sin Cit Seng singkat sebelum dia menunjukkan kebolehannya memainkan jurus Lohan Kun dengan gagah.

“Tidak buruk... lumayan... sedikit kurang bertenaga...”, komentar Tan piauwsu sambil memperhatikan permainan Sin Cit Seng.

Ketika Sin Cit Seng selesai memainkan seluruh jurus, segera anak kecil itu menjura pada Tan piauwsu dan berkata, “Mohon petunjuk pada Tan taihiap.”

Tan piauwsu tertawa senang melihat Sin Cit Seng yang sopan, “Ha ha ha... kau sudah bisa melakukannya dengan cukup baik dan tepat, hanya kurang bertenaga saja. Selain berlatih jurus, kau juga perlu melatih kekuatan tubuh. Seperti berlari-lari kecil sambil membawa beban, memanjat pohon naik dan turun dan sebagainya.”

Sin Cit Seng mendengarkan petuah Tan piauwsu dengan sungguh-sungguh sambil menganggukkan kepala. Meski dia sudah memiliki seorang guru, anak ini tidak kemudian menutup telingat terhadap nasihat orang lain, tidak pula menelan mentah-mentah pendapat orang.

“Siauwma, daripada kau pergi ke kuil Shaolin, bagaimana kalau kau mengikut aku? Di perusahaan pengawalan kami pun ada banyak pelatih-pelatih silat yang cakap.”, ujar Tan piauwsu dengan sungguh-sungguh.

Sin Cit Seng pun tercenung mendengar tawaran Tan piauwsu itu, “Tan taihiap.... apa siauwtee tidak salah dengar?”

Tan piawusu tertawa dan menjawab, “Tidak... tentu saja tidak. Aku paling suka melihat anak muda yang giat berlatih dan memiliki kemuan keras. Apabila anak-anak muda sepertimu bergabung dengan perusahaan pengawalan kami, di masa depan perusahaan pengawalan kami pun tentu akan menjadi semakin kuat.”

Sin Cit Seng terdiam, anak ini berpikir bagaimana dia bisa menolak tawaran Tan piauwsu tanpa menyinggungnya. Tan piauwsu yang sudah kenyang makan asam garam, tentu saja dengan mudah menebak pikiran anak itu.

“Apa kau ingin menolak tawaran ini?”, tanyanya pada Sin Cit Seng.

“Ah... taihiap... siauwtee...”, Sin Cit Seng tergagap mendengar pertanyaan Tan piauwsu yang langsung pada masalah.

“Hmm.... siauwma... kuharap kau tidak memandang dirimu sendiri terlalu tinggi. Perusahaan pengawalan keluarga Tan ini adalah perusahaan pengawalan yang besar. Pimpinan kami adalah Tan Tioh sianghiap bersaudara, kau mungkin belum pernah mendengar nama mereka, tetapi di selatan bisa dikatakan mereka termasuk jajaran pendekar nomor satu.”, ucap Tan piauwsu sedikit kurang senang.

Cepat-cepat Sin Cit Seng menggelengkan kepala, “Sama sekali bukan begitu Tan taihiap, siauwtee hanya luntang-lantung tak punya gantungan di masa depan, tawaran taihiap tentu saja seperti berkah jatuh dari langit. Hanya saja...”

“Hanya saja kenapa?”, tanya Tan piauwsu.

“Hanya saja..., sejak lari dari rumah, tekad siauwtee adalah untuk menjadi murid di Shaolin. Setiap kali menemui kesukaran dan kesusahan, siauwtee menguatkan diri dengan mengingatkan diri siauwtee pada impian siauwtee untuk menjadi murid di Kuil Shaolin. Sekarang, Kuil Shaolin sudah hampir di depan mata...Masakan... masakan... siauwtee harus menyerah tanpa sekalipun mencoba?”, ujar Sin Cit Seng dengan sengaja dibuat sedikit tersendat.

Mendengar jawaban Sin Cit Seng dan cara menjawabnya yang serba susah, Tan piauwsu pun tergerak, sambil mendesah dia berkata, “Hmm... kalaupun kau pergi sekarang, tentu akan menjadi penyesalan di kemudian hari...”

Tan piauwsu pun berpikir, 'Hmm... melihat tekadnya yang kuat dan bakatnya yang tidak buruk, pula dia tahu bagaimana membawa sikap... tidak kecil kemungkinan Kuil Shaolin akan menerimanya...Tapi kalau aku memaksa dia sekarang, bisa jadi hanya menimbulkan perasaan jelek di hatinya.'

Sebagai seorang yang kenyang makan asam garam dunia persilatan dan berpengalaman memimpin orang, mata Tan piauwsu cukup tajam untuk melihat bakat orang.

'Baiklah, daripada menyebar benih permusuhan, lebih baik aku berbuat sedikit kebaikan. Dalam keadaan yang buruk, semangkuk mie pun akan teringat sampai mati, hmm... ini juga tidak jelek. Modal yang keluar sedikit, resiko rugi pun tidak ada...', pikir Tan piauwsu kemudian.

Tan piauwsu pun kemudian tersenyum ramah dan berkata, “Baiklah aku mengerti. Melihat kau sudah bertekad demikian, biarlah nanti aku akan sedikit membantumu. Hari sudah semakin malam, kau cepatlah pergi tidur.”

“Baik Tan taihiap. Terima kasih banyak atas tawaran taihiap. Siauwtee tentu akan mengingat kebaikan taihiap ini.”, ujar Sin Cit Seng sambil menjura.

“Ha ha ha... baguslah kalau begitu. Nah pergilah beristirahat.”, ujar Tan piauwsu sambil tertawa ramah.

Setelah berpamitan sekali lagi, Sin Cit Seng pun bergegas menuju kereta barang tempat Tan Siauw Lung dan dia meletakkan barang bawaan mereka. Karena kedudukan mereka termasuk yang paling rendah dalam kelompok itu, tidak ada tenda yang khusus untuk disediakan bagi mereka. Tan Siauw Lung yang sudah banyak pengalaman, segera mencarikan tempat untuk mereka beristirahat.

Ketika Sin Cit Seng berjalan mendekat, dia melihat Tan Siauw Lung yang menunggunya.

“Siauwma... eh Cit Seng... tadinya aku sudah hendak menemuimu ketika kulihat Tan toako sedang meronda. Kalau ketahuan aku masih berkeliaran, bisa kena semprot aku.”, ujar Tan Siauw Lung berbisik.

Sin Cit Seng bergegas mendekat, “Tidak apa-apa toako, memangnya ada larangan seperti itu?”

“Kau bukan pegawai di perusahaan ini, jadi tidak terlalu masalah. Tapi untuk pegawai perusahaan ini, memang peraturannya cukup ketat. Jika sudah diberi tanda waktu untuk beristirahat, maka kecuali mereka yang bertugas jaga, tidak boleh ada yang berkeliaran.”, jawab Tan Siauw Lung.

“Ohh...”, ujar Sin Cit Seng sambil mengangguk-angguk.

“Omong-omong, lanjutan obrolan kita tadi siang itu bagaimana?”, tanya Tan Siauw Lung yang masih belum paham benar seberapa gentingnya urusan Sin Cit Seng.

Sin Cit Seng yang mendengar dari Tan piauwsu bahwa benar perusahaan pengawalan ini adalah perusahaan dari Tan Tioh bersaudara yang menjadi musuh bebuyutan ayah dan gurunya tentu saja jadi lebih berhati-hati.

“Apa toako sempat bicara dengan orang lain masalah ini?”, tanyanya.

“Tentu saja tidak.”, jawab Tan Siauw Lung sedikit tersinggung.

“Maaf toako, bukan aku tidak percaya, hanya saja urusan ini benar-benar genting buatku.”, jawab Sin Cit Seng dengan serius.

Melihat Sin Cit Seng berbicara sungguh-sungguh, Tan Siauw Lung pun jadi tertegun, kemudian tidak kalah bersungguh-sungguh dia berkata. “Cit Seng, kau boleh percaya padaku. Rahasiamu terjamin aman denganku.”

Sin Cit Seng yang memang sejak awal mempercayai Tan Siauw Lung cenderung untuk menceritakan rahasianya, hanya saja setelah mengetahui bahwa perusahaan pengawalan ini adalah milik Tan Tioh bersaudara, mau tidak mau dia jadi berpikir dua kali.

“Toako, kuharap toako tidak menjadi tersinggung. Jika toako setuju, marilah kita berdua mengangkat saudara, baru setelah itu aku akan menceritakan rahasia itu.”, ujar Sin Cit Seng dengan sungguh-sungguh.

Melihat sikap Sin Cit Seng yang sungguh-sungguh, Tan Siauw Lung pun tidak berani bermain-main dan rasa ingin tahunya pun semakin menjadi. Dia berpikir sejenak, dalam pikirannya yang sederhana sama sekali tidak terpikirkan bahwa urusan Sin Cit Seng akan ada urusannya dengan perusahaan pengawalan tempat dia bekerja. Pula melihat sikap Sin Cit Seng, sejak awal dia sudah merasa kasihan dan suka pada anak ini. Maka setelah berpikir beberapa saat diapun mengangguk dengan yakin.

“Baiklah, mari kita bersumpah untuk mengangkat saudara. Meskipun tidak memungkinkan buat kita untuk mengadakan upacara yang formal, tetapi biarlah langit dan bumi yang menjadi saksi.”, ujar Tan Siauw Lung dengan tegas.

Sin Cit Seng pun mengangguk dengan yakin, “Tentu.”

Tan Siauw Lung kemudian membongkar tas bawaannya, “Hah, kebetulan aku sudah menyiapkan sedikit makanan dan minuman. Karena kau masih kecil, aku membawa arak yang sudah diencerkan, tadinya kupikir sekedar untuk menghangatkan badan. Siapa sangka, justru sekarang jadi berguna.”

“Wah toako memang hebat.”, ujar Sin Cit Seng sambil membantu Tan Siauw Lung menata makanan dan minuman.

“Sayang tidak ada hioswa...”, ujar Tan Siauw Lung.

“Pakai ini saja toako.”, ujar Sin Cit Seng sambil mengajukan beberapa batang jerami.

“Yah... tidak ada rotan akarpun jadi.”, ujar Tan Siauw Lung menerimanya.

Kemudian keduanya pun menghadap ke altar buatan mereka itu, Tan Siauw Lung mengambil pisau pendek yang selalu dia bawa. Kesan main-main yang sempat muncul sekarang hilang. Dengan sungguh-sungguh Tan Siauw Lung, menggores telapak tangannya, hingga darah menitik ke dalam cawan. Setelah itu diberikannya pisau itu pada Sin Cit Seng. Meski masih muda, Sin Cit Seng tidak kalah tegarnya dengan Tan Siauw Lung, tanpa berkedip dia pun menggores telapak tangannya cukup dalam agar darah mengucur keluar dan menetes ke dalam cawan.

Mereka pun kemudian mengangkat sumpah.

“Boanpwee Tan Siauw Lung, mengangkat Sin Cit Seng sebagai saudara muda.”, ujar Tan Siauw Lung.

“Boanpwee Sin Cit Seng, mengangkat Tan Siauw Lung sebagai saudara tua.”, ujar Sin Cit Seng.

“Meski tidak dilahirkan dari ayah dan ibu yang sama, meski berbeda marga, namun kami bersumpah untuk mengangkat saudara, susah senang ditanggung bersama. Saling membantu menghadapi mara bahaya. Apa pun nasib yang akan kami hadapi di masa depan, kami tidak akan pernah meninggalkan saudara kami dalam bahaya.”

“Kiranya langit dan bumi yang menjadi saksi. Barangsiapa melanggar sumpah ini, biarlah dia mati dengan tubuh tercerai berai.”

Keduanya bergantian mengucapkan sumpah, kemudian menyalakan jerami sebagai ganti dupa dan bergantian meminum arak dari cawan yang sama.

Sesudah itu, barulah Sin Cit Seng menceritakan segala kesusahannya tanpa ditutup-tutupi sedikitpun. Tan Siauw Lung pun hanya bisa terlongong-longong mendengarkan cerita Sin Cit Seng. Sesekali dia terlihat geram ketika mendengar bagaimana ayah Sin Cit Seng ditipu lawan. Di lain saat wajahnya terlihat suram, karena mendengar pimpinan dari perusahaan pengawalan tempat dia bekerja, justru bekerja sama dengan lawan adik angkatnya.

“Sutee... masalahmu gawat sekali. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”, ujar Tan Siauw Lung sambil mengerutkan alis.