Jumat, 01 Mei 2015

Bab 2

“Hemm.... jadi Song ciangkun berencana hendak menghadap dan bertanya padaku tentang masalah dana sumbangan untuk prajurit di bawah kesatuannya?”, tanya seorang lelaki setengah umur dengan baju sutra yang mewah, sedang duduk bersandar di kursi berukir.

Di depannya sedang berlutut seseorang berbaju gelap, wajah yang seharusnya tampan terlihat menyembunyikan kelicikan dengan senyum yang mengejek, “Benar sekali caysiang, dia juga bersekutu dengan dua orang sahabatnya. Yang seorang pendekar muda bernama Bun Te Kun dan seorang tosu bernama Teng Koan Su.”

“Apa yang kau ketahui tentang dua orang itu? Kira-kira bisakah mereka dibujuk untuk berpihak pada kita? Tinggikah kepandaian mereka berdua? Apakah mereka memiliki kekuatan lain di belakang mereka?”

“Sejak caysiang menempatkan hamba dalam kesatuan Song ciangkun, hamba sudah sering melihat mereka berdua datang berkunjung, dari sekian banyak orang sahabat Song ciangkun, hamba kira mereka berdua adalah sahabat-sahabat terdekatnya. Hamba kira akan sukar untuk membujuk mereka berdua.”, jawab lelaki berpakain gelap itu.

“Hmm... hmm... ada juga orang-orang seperti itu, sebenarnya sayang juga kalau sampai harus membinasakan orang seperti mereka. Tapi orang seperti itu, kalau tidak bisa dibeli, paling bagus harus dimusnahkan. Lanjutkan laporanmu.”, ujar lelaki setengah umur berpakaian mewah itu sambil menyisip the panas di cangkirnya.

“Bun Te Kun ini adalah seorang pendekar muda yang cukup cepat menanjak namanya. Permainan pedangnya bisa dikatakan tidak ada duanya di Pakkiah sini. Ilmu pedangnya bersumber dari aliran Butong pai yang dia pelajari dari ayahnya. Meski tidak pernah secara resmi menjadi murid aliran Butong pai tetapi menurut beberapa selentingan ayahnya pernah mengirim dia ke Gunung Butong untuk memohon petunjuk.”

“Dan apa hasilnya?”

“Cerita ini belum bisa dipastikan, tetapi dari pihak Butong Pai sendiri tidak pernah terdengar ada sanggahan. Menurut cerita yang beredar di luaran, saat Bun Te Kun ini datang untuk menunjukkan permainan pedangnya dan meminta petunjuk, Thio Sam Hong. Menurut cerita Thio Sam Hong sendiri menyempatkan diri untuk melihat permainan pedangnya.”

“Benarkah? Ini menarik sekali, berapa umur Bun Te Kun waktu itu? Jika sekarang usianya menginjak dua puluhan, artinya waktu itu dia masih remaja sekali dan apa pendapat Thio Sam Hong setelah melihat permainan pedangnya? Karena sudah cukup lama sejak jejak Thio Sam Hong menutup pintu, bahkan ketika Beng Thaycu mengirimkan undangan untuk datang pun orangnya tiada mau menghadap.”

“Caysiang benar, waktu itu, usia Bun Te Kun baru menginjak usia dua belasan. Menurut cerita waktu itu Thio Sam Hong memuji permainan pedangnya dan menganjurkan pada murid-muridnya untuk memberikan bimbingan pada Bun Te Kun dan berkata jika dibimbing dengan benar, bukan tidak mungkin ilmu pedang Butong dialah yang menjadi pewaris sesungguhnya.”

“Oh..., benarkah demikian? Jika benar tentu ilmu pedangnya benar-benar nomor satu di seluruh negeri, tapi jika benar demikian mengapa Thio Sam Hong tidak mengangkatnya menjadi anak murid Butong Pai? Bukankah ini aneh sekali?”

“Menurut cerita orang hal itu ada sebabnya. Thio Sam Hong melihat watak Bun Te Kun ini antara sesat dan lurus, ada sifat keji dan telengas dalam cara dia memainkan jurus-jurus pedang. Itu sebabnya Thio Sam Hong tidak mengijinkan Bun Te Kun menjadi anak murid Butong. Di lain pihak, Thio Sam Hong berpendapat bakat Bun Te Kun ini sangat baik, sehingga sayang dan juga berbahaya jika tidak diarahkan. Karenanya dia meminta para muridnya untuk memberikan bimbingan pada Bun Te Kun sekaligus memberikan peringatan keras pada Bun Te Kun agar jangan sampai tindak-tanduknya di kemudian hari menyimpang dari jalan kebenaran.”

“Hmm... ini cerita apa bisa dipastikan kebenarannya? Jika benar Thio Sam Hong berkata demikian, itu artinya orang she Bun ini bisa menjadi lawan yang menyebalkan.”, ujar Hoo caysiang sambil mengerutkan alisnya.

Untuk sesaat wajah lelaki berbaju gelap itu kehilangan senyum mengejeknya, “Hamba kira kalaupun cerita ini tidak benar 100%, sedikit banyak tentu ada kebenaran di dalamnya. Selain itu lepas dari benar tidaknya cerita itu, kenyataannya sudah belasan jago pedang yang ditantangnya dan semua yang berani menjawab tantangannya keok oleh jurus pedangnya. Belasan lain yang berani menantangnya juga keok dalam hitungan belasan jurus saja.”

Hoo caysiang menggeram kesal, “Hmm... benar-benar mengesalkan bagaimana orang she Song itu bisa menemukan sahabat macam begini.”

Mereka berdua pun terdiam sejenak, lelaki berbaju gelap itu tidak ingin mengganggu Hoo caysiang yang terlihat kesal dan sekarang tanpa sedang berpikir keras. Sejurus kemudian Hoo caysiang mengangkat kepalanya.

“Liem Tsiang Po, inilah yang kusukai darimu, kebanyakan orang ketika menyampaikan laporan bersifat menjilat. Suka-suka mereka berusaha meninggikan dirinya agar mendapatkan kepercayaan lebih dan merendahkan lawan untuk menghindari perasaan tidak suka. Hal ini sangat berbahaya. Kau memiliki kepandaian, juga bijak dalam menyampaikan laporan. Jika urusan orang she Song ini berhasil dibereskan, aku akan menaikkan pangkatmu.”, ujar Hoo caysiang berjanji.

Mendengar ucapan Hoo caysiang itu wajah Liem Tsiang Po pun berbinar senang, “Terima kasih atas kemurahan hati Hoo caysiang. Hamba berjanji untuk setia sampai mati.”

“Hmm... sekarang soal orang she Bun, itu melihat ambisinya yang demikian besar untuk menjagoi seluruh negeri, sudah tentu banyak orang yang mendendam, juga orang yang khawatir kehilangan reputasinya, apakah di antara mereka itu ada yang bisa digunakan?”, ujar Hoo caysiang sambil menganggukkan kepala menerima penghormatan Liem Tsiang Po.

“Benar sekali perkataan caysiang, ada banyak orang yang memiliki urusan dengan pemuda she Bun ini. Di antara mereka ada kepala begal she Ong Co Go yang saudara angkatnya mati dibasmi oleh Bun Te Kun. Lalu ada Tan Tioh Eng dan Tan Tioh Giu bersaudara, keduanya sempat merajai daerah selatan sungai sebelum dipermalukan Bun Te Kun dalam sebuah pertarungan terbuka. Selain tiga orang itu masih ada beberapa orang lain yang punya cukup nama yaitu, Tong Bak Chiu, Seng Hoan Hu, Yap Tek Kwan dan Auwyang Sin Kho.”

“Menurutmu jika mereka bertujuh bekerja sama menghadapi orang she Bun, bisakah mereka menang?”

“Hamba cukup yakin mereka bertujuh bisa mengalahkannya, tiap-tiap orang dari mereka kalaupun kalah dari Bun Tek Kun selisihnya juga hanya dua-tiga lapis, jika mereka bertujuh mau bekerja sama tentu bisa mengalahkannya. Hanya sebagai orang bernama tentu mereka malu jika sampai ketahuan mengeroyok orang she Bun itu.”

“Hmm... toh mereka bisa melakukannya dengan diam-diam. Asal orang luar tidak tahu bukannya semuanya jadi beres? Kira-kira apa mereka bisa diajak bekerja sama?”

“Hamba kira, kalau caysiang yang mengundang dan memerintahkan, tentu mereka akan bersuka untuk melakukannya. Tanpa ada iming-iming hadiahpun, sehari lebih lama Bun Te Kun hidup, sehari itu pula mereka harus menekan perasaan dongkol mereka. Tinggal gengsi saja yang menghalangi mereka untuk saling bekerja sama, kuatirnya uluran tangan mereka ditolak oleh yang lain, apalagi kalau sampai berita itu tersiar keluar. Dengan adanya caysiang yang menjembatani tentu tidak akan ada masalah.”, jawab Liem Tsiang Po.

“Bagus... bagus..., menurut tempat tinggal mereka, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengundang dan mengumpulkan mereka di sini?”, tanya Hoo caysiang.

“Selain Ong Co Go yang markasnya ada di tengah rimba, yang lain-lainnya memiliki tempat tinggal yang tetap jadi tidak akan susah untuk mengundang mereka, cukup asalkan undangan itu disampaikan diam-diam. Sedangkan untuk menemukan Ong Co Go juga tidak susah-susah amat, asalkan kita mengirim kereta barang melewati daerah kekuasaannya dan menolak menyampaikan upeti tentu dia akan muncul. Keseluruhannya hamba kira bisa berkumpul di sini dalam waktu kurang lebih 2 minggu ke depan, jika caysiang mulai menyebarkan undangan besok pagi.”

“Ha ha ha, bagus, bagus, jadi orang she Bun itu tidak perlu dipusingkan lagi.”, ujar Hoo caysiang tampak puas.

“Kalau hamba boleh memberi saran, caysiang bisa menggunakan Tan Tioh Eng dan Tan Tioh Giu bersaudara untuk mengundang Ong Co Go, kedua orang she Tan itu membuka jasa pengawalan barang jadi caysiang bisa berpura-pura menggunakan jasa mereka untuk mengawal barang padahal sebenarnya menyampaikan undangan rahasia, sekaligus caysiang bisa memancing Ong Co Go keluar.”, ujar Liem Siang Po menyampaikan usulan.

“Hmm... boleh juga usulanmu itu. Lalu sekarang bagaimana dengan sahabat Song ciangkun yang lain? Teng Koan Su?”

“Teng Koan Su ini kepandaian silatnya boleh dikata tidak terlalu menonjol, namun dia banyak dihargai orang Bu Lim karena sifat-sifat ksatrianya. Jika dia sudah menyanggupi permintaan Song ciangkun maka boleh dibilang sudah pasti dia tidak akan lupa janjinya itu sebelum nyawanya melayang. Karena sifatnya itu pula, kalau Teng Koan Su sudah mengerjakan sesuatu, bisa dipastikan akan ada tiga sampai empat jagoan lain yang akan ikut membantu dia bekerja.”, jawab Liem Tsiang Po.

“Oh... Song ciangkun ini benar-benar menyebalkan, bisa juga dia memiliki sahabat-sahabat yang memusingkan kepala begini. Apakah di antara sahabat-sahabat Teng Koan Su ada yang kelasnya setingkat dengan pemuda she Bun itu?”, tanya Hoo caysiang.

“Tidak caysiang, kepandaian mereka kalaupun tidak setingkat atau lebih rendah dari Teng Koan Su sendiri, kalaupun lebih tinggi paling hanya lebih tinggi selapis di atasnya. Bun Te Kun sendiri bisa dikatakan calon jagoan nomor satu di masa depan, jadi tidak gampang mencari orang yang sebanding dengannya.”, jawab Liem Tsiang Po.

“Apakah tujuh orang yang kita undang kira-kira cukup untuk melawan mereka?”, tanya Hoo caysiang.

“Jika Teng Koansu dan kawan-kawannya bekerja sama dengan Bun Te Kun, hamba kira tujuh orang itu tidak akan bertahan. Sebaiknya tujuh orang itu dikhususkan untuk melawan Bun Te Kun seorang.”, jawab Liem Tsiang Po.

“Apa kira-kira sepasukan kecil tentara khusus sudah cukup untuk melawan Teng Koan Su dan kawan-kawannya?”, tanya Hoo caysiang.

“Hamba kira demikian, lima puluhan orang tentara terpilih serta pemimpin pasukannya sudah cukup untuk menghadapi mereka.”, jawab Liem Tsiang Po.

“Baiklah, kalau begitu semuanya sudah beres. Besok aku akan coba memberikan jawaban yang memuaskan Song ciangkun, tetapi menilik sifatnya dan laporanmu, kukira akan sulit untuk membuat orang ini diam. Jika dia memang tidak bisa diajak kerja sama, lebih baik dilenyapkan saja sekalian. Sekarang kau kembalilah ke barakmu, untuk sementara ini aku masih memerlukanmu di sana. Jangan sampai gerak-gerikmu tercium lawan.”, ujar Hoo caysiang sambil melambaikan tangannya menyuruh Liem Tsiang Po keluar.

Setelah memberi hormat, dengan gesit Liem Tsiang Po keluar ruangan lewat jendela, menghilang dalam kegelapan malam.

Setelah Liem Tsiang Po menghilang untuk beberapa lama, Hoo caysiang berdehem, “Keluarlah.”

Tanpa suara, seperti bayangan seseorang muncul di belakang Hoo caysiang.

Masih meniup-niup teh panas di cangkirnya Hoo caysiang bertanya dengan tenang, “Bagaimana menurut pendapatmu tentang ilmu pedang orang she Bun itu? Kalau kau yang kusuruh menghadapi dia bagaimana?”

“Jika caysiang yang memberi perintah, tentu aku laksanakan tapi soal menang-kalah sedikit sulit dipastikan. Lagipula, kupikir jauh lebih menguntungkan bagi caysiang jika untuk sementara waktu ini orang tidak tahu hubungan kita.”, jawab orang di belakang Hoo caysiang itu.

Hoo caysiang terdiam beberapa lama, sebelum akhirnya mendesah dan berkata, “Yahh... kupikir kau ada benarnya, lebih baik mengeluarkan uang untuk mendapatkan bantuan 7 orang itu daripada terlalu pelit dan akibatnya malah membahayakan urusan yang lebih besar. Kira-kira bagaimana dengan 7 orang yang diajukan Liem Tsiang Po?”

“Pasti berhasil”, jawab orang itu.

“Hmm.... baiklah besok aku akan mulai mengumpulkan mereka.”, ujar Hoo caysiang kemudian.