Kamis, 16 Mei 2013

Happy Prince (part-2)

Air mata mengembang dari kedua bola mata Pangeran Bahagia. Tetes demi tetes air mata, mengalir menuruni pipinya yang terbuat dari emas. Pangeran Bahagia terlihat begitu tampan dan sendu, membuat hati burung layang-layang tersentuh oleh rasa haru dan kasihan.

“Siapa kamu”, tanyanya.

“Aku Pangeran Bahagia”, jawab patung itu.

“Kalau demikian, mengapa engkau menangis demikian rupa, sampai membuatku basah kuyup karenanya”, ujar burung layang-layang kecil itu.

“Ketika aku hidup dan memiliki hati seorang manusia”, patung itu pun menjawab, “aku tak tahu apa itu air mata. Karena aku hidup di istana, di mana kesedihan tak diijinkan untuk masuk ke dalamnya. Saat hari terang, kami bermain-main di taman. Ketika hari mulai gelap, kami akan berdansa di balai istana. Tembok tinggi mengelilingi taman tapi aku tak penah ingin tahu ada apa di baliknya, semua yang ada di sekelilingku, semuanya begitu indah. Para pengiringku, memanggilku Pangeran Bahagia, dan jika kesenangan adalah kebahagiaan, maka sesungguhnyalah memang demikian adanya. Demikian aku hidup, demikian pula aku mati. Dan sekarang, setelah aku mati, mereka menempatkanku begitu tinggi di atas kota, di mana aku bisa melihat semua kejahatan, kesedihan dan penderitaan yang ada di kota ini. Sekarang, meski hatiku terbuat dari timah, namun tak bisa tidak, aku menangis karena sedih melihat ini semua.”

“Oh… rupanya, dia bukan terbuat dari emas seluruhnya”, gumam burung layang-layang kecil itu diam-diam, karena dia seekor burung layang-layang yang sopan.

“Jauh di bawah sana”, ujar patung itu dengan suara mengalun mendayu-dayu, “jauh di bawah sana, di sebuah gang yang sempit ada sebuah rumah kecil yang buruk. Salah satu jendelanya terbuka, dan lewat jendela itu aku melihat seorang wanita sedang duduk. Wajahnya kurus dan lelah. Tangannya kasar dan kemerahan berkali-kali tertusuk oleh jarum jahit, karena dia seorang penjahit. Dia sedang menyulam bunga-bunga indah pada sebuah gaun satin, untuk seorang gadis cantik, yang tercantik di antara para pengiring kehormatan dari ratu. Dia akan memakainya pada pesta dansa istana berikutnya. Di sebuah tempat tidur, di ujung ruang yang kecil itu, berbaring seorang anak laki-laki kecil. Dia sedang sakit, badannya demam dan dia menangis pada ibunya, meminta jeruk. Namun ibunya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan, kecuali air putih saja, sehingga anak laki-laki itu pun menangis. Burung layang-layang yang kecil, maukah kau membawakan padanya, batu rubi yang ada pada gagang pedangku? Kakiku terikat pada tempat ini dan aku tak dapat bergerak.”

“Aku sedang ditunggu di Mesir sana,” jawab burung layang-layang kecil itu.

“Teman-temanku saat ini, sedang terbang naik dan turun di atas permukaan Sungai Nil dan bercakap-cakap dengan bunga-bunga Lotus yang besar. Segera kemudian merekapun akan beristirahat di makam-makam raja besar. Sementara raja-raja itu sendiri, ada di dalam petinya yang dihiasi dengan lukisan, dibungkus dengan kain linen dan diawetkan dengan rempah-rempah. Di sekeliling lehernya, sebuah kalung terbuat dari jade berwarna hijau muda dan tangannya menyusut dan mengeriyut seperti daun-daun layu.”

“Burung layang-layang kecil, tidak bersediakah kamu, untuk tinggal bersamaku satu malam lagi, dan menjadi utusanku? Anak laki-laki itu begitu kehausan dan ibunya begitu sedih karena tidak memiliki apa-apa untuk diberikan”, bujuk Pangeran Bahagia.

“Kupikir, aku tidak suka dengan anak laki-laki. Musim panas yang lalu, ketika aku masih tinggal di tepi sungai, ada dua orang anak laki-laki yang kasar, yang selalu melempariku dengan batu-batu. Mereka tidak pernah mengenaiku, karena kami burung layang-layang, terbang terlalu tinggi dan terlalu lincah untuk mereka. Tapi tetap saja, apa yang mereka lakukan itu menunjukkan ketidak sopanan mereka.”, ujar burung layang-layang kecil itu.

Tapi wajah Pangeran Bahagia terlihat begitu sedihnya, sehingga burung layang-layang itu pun menyesal sudah menolak permintaan Pangeran Bahagia, “Cuaca begitu dingin di sini, tapi baiklah, aku akan tinggal bersamamu satu malam lagi dan menjadi utusanmu.”

“Terima kasih, burung layang-layang kecil”, jawab Pangeran Bahagia.

Maka burung layang-layang itu pun, mencongkel batu rubi dari gagang pedang Pangeran Bahagia dan terbang membawa batu rubi itu pada paruhnya. Dia terbang melintasi menara katedral, di mana malaikat-malaikat dipahat di atas batu marmer putih. Dia melewati istana dan mendengar suara pesta dansa, seorang gadis cantik sedang berada di beranda dengan kekasihnya.

“Betapa indah malam ini dan betapa mengagumkan kekuatan dari cinta”, ujar kekasihnya.

“Aku berharap, gaunku akan segera siap, sebelum pesta dansa kerajaan nanti”, jawab gadis itu, “Aku sudah memesan sebuah gaun dengan sulaman bunga di atasnya, namun penjahitnya sangatlah malas.”

Burung layang-layang itu terbang melintasi sungai dan melihat lentera-lentera yang digantungkan pada kapal-kapal yang merapat di dermaga. Melewati daerah kumuh dan melihat para Yahudi sedang tawar menawar, satu dengan yang lain, menimbang uang di atas timbangan terbuat dari tembaga. Akhirnya sampailah dia di rumah kecil yang lusuh itu dan menengok ke dalam. Sang ibu sudah jatuh tertidur karena kelelahan, sementara anak laki-lakinya berbaring resah oleh demamnya, di atas tempat tidur. Perlahan dia melayang masuk, melompat-lompat kecil di atas meja dan menaruh batu rubi yang besar itu di atasnya, di samping si ibu yang tertidur lelah. Kemudian dia pun terbang perlahan ke arah tempat tidur, dengan kedua sayapnya, dikipasinya anak laki-laki yang sedang sakit itu.

“Betapa sejuknya, tentu aku sudah mulai sembuh.”, gumam anak laki-laki itu, sebelum kemudian tidur dengan nyenyaknya.

Kemudian burung layang-layang kecil itupun, terbang kembali pada Pangeran Bahagia, dan bercerita tentang segala sesuatu yang sudah dia lakukan.

“Yang menarik adalah, aku merasa hangat sekarang, padahal cuaca begitu dingin”, ujar burung layang-layang kecil itu.

“Itu karena kau sudah melakukan satu perbuatan baik”, jawab Pangeran Bahagia.

Burung kecil itu pun merenungkan perkataan Pangeran Bahagia dan jatuh tertidur. Karena berpikir selalu membuat dia mengantuk.

Keesokan paginya, burung layang-layang kecil itu pergi ke sungai dan mandi di sana.

“Ini sebuah fenomena alam yang ajaib”, ujar seorang ahli burung yang kebetulan melihatnya saat berjalan melewati sungai itu, “seekor burung layang-layang di musim dingin!”

Dan diapun mengirimkan sebuah artikel yang panjang tentang hal itu ke salah satu koran lokal. Setiap orang membaca dan mengutipnya, artikel itu penuh dengan kata-kata yang tidak mereka mengerti.

“Malam ini aku akan terbang, pergi ke Mesir,” kata burung layang-layang pada dirinya sendiri.

Semangatnya pun bangkit, saat dia memikirkan hal itu. Dia pergi dari satu monumen ke monumen lain di dalam kota itu. Satu kali dia hinggap lama sekali di atas sebuah menara gereja.

Ke mana pun dia pergi, burung pipit saling berkata-kata tentang dirinya, “Lihat seekor burung ternama dari luar negeri.”

Dan hal itu membuat senang hatinya.

Ketika malam tiba, dia pun terbang kembali pada Pangeran Bahagia untuk berpamitan, “Malam ini aku akan kembali ke Mesir.”

“Burung layang-layang kecil, maukah kau tinggal satu malam lagi?”, tanya Pangeran Bahagia ketika mendengar dia akan pergi.

“Aku ditunggu di Mesir,” jawab burung layang-layang itu, “Besok teman-temanku akan terbang ke Air Terjun Besar Kedua. Kuda nil-kuda nil yang besar ada di sana dan juga Dewa Memnon yang duduk pada tahta kebesarannya yang terbuat dari granit, mengawasi bintang-bintang sepanjang malam, kemudian berseru girang saat melihat bintang fajar terbit di langit. Kemudian dia siang hari, singa-singa akan datang ke tepian sungai untuk minum. Mereka memiliki mata besar seperti permata hijau dan raungannya lebih keras dari deru air terjun.”

“Burung layang-layang kecil,” kata Pangeran Bahagia, “jauh di seberang kota, aku melihat seorang pemuda di sebuah loteng. Dia duduk membungkuk di sebuah meja penuh dengan kertas-kertas dan di sampingnya sebuat vas terisi bunga-bunga layu. Rambutnya berwarna coklat, bibirnya semerah delima dan dia memiliki sepasang mata jeli penuh mimpi. Dia sedang mencoba menuliskan sebuah naskah drama untuk kepala teater, tapi dia terlalu kedinginan untuk menyelesaikan tulisannya. Tidak ada api di perapian dan rasa lapar membuat dia lemas.”

“Baiklah, aku akan menunggu satu malam lagi,” jawab burung layang-layang yang sungguh berhati baik, “Apakah aku akan membawakan dia batu rubi yang lain?”

“Celaka! Aku sudah tidak memiliki batu rubi sekarang, “kata Pangeran Bahagia, “hanya ada tinggal dua bola mataku. Mereka terbuat dari batu safir yang langka, dibawa dari India ribuan tahun yang lalu. Congkel-lah satu dari mereka dan bawakan padanya. Dia akan menjualnya, dan hasilnya dapat dia pakai untuk membeli makanan dan kayu bakar untuk perapiannya, sehingga dia bisa menyelesaikan naskah yang ditulisnya.”

“Pangeranku tersayang, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya ?”, seru burung layang-layang itu sambil menangis sedih.

“Burung layang-layang kecilku, lakukanlah yang kuperintahkan”, ujar Pangeran Bahagia.

Maka burung layang-layang itu pun, mencongkel satu dari batu safir yang menjadi mata Pangeran Bahagia dan terbang menuju loteng tempat pemuda itu tinggal. Mudah saja baginya untuk masuk, karena ada lubang di atap loteng itu. Pemuda itu menelungkup dengan kedua tangan memegangi kepalanya, sehingga dia tidak mendengar kepak sayap burung layang-layang kecil itu, dan ketika dia bangkit, dia pun menemukan sebuah batu safir yang indah, tergeletak di antara bunga-bunga violet yang sudah layu.

“Aku memiliki seorang pengagum!”, serunya girang.

“Tentu batu ini berasal dari salah seorang pengagumku. Sekarang aku bisa menyelesaikan tulisanku”, ujarnya terlihat bahagia.

Keesokan paginya, burung layang-layang kecil itu terbang ke dermaga. Dia duduk di atas tiang layar sebuah kapal yang besar, mengawasi para pelaut mengisi kapal mereka dengan peti-peti besar. Menggunakan katrol dan tali-tali yang tebal.

“Heave a hoy!”, seru mereka setiap kali sebuah peti besar ditarik ke atas.

“Aku akan pergi ke Mesir malam ini!”, seru burung layang-layang itu pada orang-orang yang ada di bawahnya, tapi tak seorangpun mengerti dia dan ketika malam tiba dia pun terbang kembali pada Pangeran Bahagia.

“Aku datang untuk berpamitan”, ujarnya.

“Burung layang-layang kecil, maukah kau tinggal satu malam lebih lama?”, tanya Pangeran Bahagia.

“Tapi sekarang musing dingin, “jawab burung layang-layang, “dan salju akan segera tiba. Di Mesir cuacanya hangat, matahari bersinar di antara pohon-pohon palem, dan para buaya bermalas-malasan berbaring di lumpur di tepian Sungai Nil. Teman-temanku sedang membangun sarang di Kuil Baalbec, merpati-merpati putih mengawasi mereka sambil bersahut-sahutan di antara mereka sendiri. Pangeranku sayang, aku harus pergi sekarang, namun aku tidak akan pernah melupakan dirimu. Musim semi mendatang aku akan kembali, membawa dua buah permata indah, untuk menggantikan dua permatamu yang kau berikan. Batu rubinya akan merah, lebih merah dari mawar merah dan batu safirnya begitu biru, sebiru lautan luas.”

“Di alun-alun kota, “kata Pangeran Bahagia, “berdiri gadis kecil penjual korek api. Korek api yang dijualnya jatuh ke selokan dan sekarang basah tak bisa dipakai lagi. Dia menangis sedih karena ayahnya akan memukuli dia jika dia pulang dengan tangan hampa. Dia tidak memakai sepatu ataupun kaus kaki, juga tanpa topi untuk melindungi epalanya dari angin dingin. Congkel mataku yang satu lagi dan berikan padanya. Supaya ayahnya tidak memukuli dia.”

“Aku akan tinggal satu malam lagi denganmu, “ ujar burung layang-layang, “tapi aku tidak bisa mencongkel matamu lagi, karena jika itu kulakukan, kau akan menjadi buta.”

“Burung layang-layang kecilku, lakukanlah yang kuperintahkan”, ujar Pangeran Bahagia.

Maka burung itu pun mencongkel mata Pangeran Bahagia yang satu lagi, kemudian terbang melewati gadis kecil itu, dijatuhkannya batu safir itu tepat pada kedua tangan gadis kecil itu.

“Lihat, betapa indah batu ini!”, seru gadis kecil itu dan diapun berlari, pulang ke rumahnya sambil tertawa riang.

Burung layang-layang itu pun kembali pada Pangeran Bahagia dan berkata, “Sekarang kau menjadi buta, jadi aku memutuskan akan menemanimu selalu.”

“Tidak burung layang-layangku,“ jawab Pangeran Bahagia, “kau harus pergi ke Mesir.”

“Aku akan tinggal bersamamu,” jawab burung layang-layang itu dengan tegas, kemudian tidur di antara kaki Pangeran Bahagia.

Keesokan harinya burung layang-layang itu menghabiskan sepanjang hari, duduk di pundak Pangeran Bahagia, bercerita padanya tentang tempat-tempat eksotis yang pernah dia kunjungi. Tentang burung-burung Ibis merah yang berbaris sepanjang Sungai Nil dan menangkap ikan emas dengan paruhnya. Tentang Sphinx yang setua dunia dan tinggal di padang pasir, tentang iring-iringan para pedagang yang berjalan perlahan dengan unta-unta mereka; tentang raja-raja pegunungan, yang berkulit hitam, sehitam kayu eboni; tentang ular-ular hijau besar yang tidur di antara pohon-pohon palem dan orang-orang pigmi yang berlayar di danau besar.”

“Burung layang-layangku sayang, “ujar Pangeran Bahagia, “kau bercerita tentang hal-hal yang menakjubkan. Tapi lebih mencengangkan adalah penderitaan yang harus dijalani manusia. Tidak ada misteri yang lebih misterius dari itu. Terbanglah mengelilingi kota dan ceritakan apa yang kaulihat di sana.”

Maka burung layang-layang itu pun terbang mengelilingi kota yang besar itu, melihat orang-orang kaya bersenang-senang dalam rumah megahnya, sementara para pengemis duduk di pintu gerbang. Dia terbang melalui lorong-lorong gelap dan melihat wajah-wajah pucat anak-anak kecil yang kelaparan, memandang kosong pada jalanan yang hitam. Di bawah sebuah jembatan, dua orang anak laki-laki berbaring berpelukan, berusaha menjaga tubuh mereka agar tetap hangat.

“Betapa lapar perut kami”, kata mereka.

“Kalian tidak boleh berbaring di sana!”, seru penjaga dan kedua anak itu pun harus pergi dari sana meski hari sedang hujan dan tak ada tempat lain untuk berteduh.

Melihat itu semua, burung layang-layang itu pun terbang kembali pada Pangeran Bahagia dan menceritakan semua yang dia lihat.

“Aku ditutupi dengan helai-helai dari emas, “kata Pangeran, “ambillah selembar demi selembar dan berikan pada rakyatku yang miskin; orang-orang selalu berpikir bahwa emas bisa membuat mereka bahagia.”

Helai demi helai, diambil burung layang-layang itu dari tubuh Pangeran Bahagia, sampai akhirnya Pangeran Bahagia pun sekarang terlihat suram dan buruk rupa. Helai demi helai dia antarkan pada orang-orang miskin yang ada di kota. Perlahan wajah anak-anak kecil yang ada di bawah sana mulai berseri.

Mereka bermain dan tertawa, berseru satu dengan yang lain, ”Sekarang kami memiliki roti untuk dimakan!”

Dan salju pun mulai datang, salju menumpuk dan membeku. Jalanan yang membeku terlihat seperti terbuat dari perak yang berkilauan di bawah matahari. Orang-orang berlalu lalang dengan mantel bulu yang tebal, anak-anak kecil bermain seluncuran dengan topi-topi dan penutup telinga berwarna cerah.

Burung layang-layang yang malang pun kedingingan, semakin hari semakin dingin, tapi dia tidak mau meninggalkan Sang Pangeran, dia terlalu mencintainya sekarang. Untuk makan dia diam-diam mengumpulkan remah-remah roti dari toko roti, ketika pemilik toko itu tidak melihatnya. Untuk menghangatkan tubuhnya, dia mengepak-kepakkan sayapnya.

Tapi pada akhirnya dia pun tahu, dia akan mati. Dengan susah payah dia terbang ke pundak Pangeran Bahagia sekali lagi.

“Selamat tinggal Pangeranku tersayang,” bisiknya perlahan, “bolehkah aku mencium tanganmu sebagai tanda perpisahan?”

“Aku senang, akhirnya kau memutuskan untuk pergi ke Mesir, burung kecilku,” ujar Sang Pangeran, “kau sudah berdiam di sini terlalu lama, tapi jangan cium tanganku, melainkan ciumlah bibirku, karena kau mengasihimu.”

“Bukan ke Mesir aku pergi,” kata burung layang-layang kecil itu. “Aku akan pergi ke dunia orang mati. Mati adalah saudara dari tidur, benar bukan?”

Dan diapun mencium Pangeran Bahagia di bibirnya, kemudian jatuh mati di antara kedua kakinya.

Pada saat itu terdengar suara, ada sesuatu yang patah di dalam patung itu. Kenyataannya, hati patung Pangeran Bahagia yang terbuat dari timah, patah menjadi dua. Tentu karena cuaca dingin membekukannya hingga patah.

Keesokan paginya Bapak Walikota sedang berjalan-jalan di alun-alun bersama serombongan Dewan Penasehat Kota.

Saat mereka melewati patung Pangeran Bahagia berserulah dia, “Buruk sekali patung Pangeran Bahagia sekarang!”

“Ya, benar-benar buruk dan berantakan”, sahut para anggota dewan yang selalu setuju dengan apa pun yang dikatakan oleh Bapak Walikota.

“Batu rubi tidak ada lagi pada gagang pedangnya, kedua matanya hilang dan tidak ada lagi emas menyelimutinya,“ kata Bapak Walikota, “dia tidak lebih baik dari seorang pengemis!”

“Hanya sedikit saja lebih dari pengemis,” ujar para anggota dewan.

“Bahkan ada bangkai burung di antara kakinya!”, lanjut Bapak Walikota. “Keluarkan peraturan tidak boleh ada burung mati di sini!”

Sekeretarisnya pun cepat-cepat menuliskan perintah itu dalam buku catatannya.

Maka merekapun menumbangkan patung Pangeran Bahagia dari atas sana.

“Karena dia sudah tidak lagi indah, maka tidak ada lagi gunanya dia ada di atas sana”, ujar seorang profesor kesenian dari universitas ternama.

Mereka pun melelehkan patung Pangeran Bahagia di perapian, sementara Bapak Walikota dan para anggota dewan, mengadakan rapat, tentang apa yang akan mereka lakukan dengan logam tuangan itu.

“kita harus membuat patung yang lain, tentunya patung dari diri saya.”, ujar Bapak Walikota.

“Tidak, bukan patung diri anda, tapi patung diri saya”, ujar seorang anggota dewan dan anggota dewan yang lain berseru pula meminta agar patung dirinya yang dibuat.

Mereka pun berdebat, tentang patung siapa yang akan menggantikan patung Pangeran Bahagia. Berita terakhir yang terdengar, sampai cerita ini dituliskan pun, mereka masih berdebat.

“Aneh sekali!”, ujar pekerja yang bertugas melelehkan patung Pangeran Bahagia.

“Hati dari timah ini tidak juga bisa dilelehkan. Sebaiknya kita buang saja dia”, maka mereka pun membuangnya di tempat sampah, di mana tubuh burung layang-layang kecil juga terbaring di sana.

---------------- o ---------------

Di surga Tuhan berkata pada salah satu malaikatNya, “Bawakan aku, dua hal yang paling berharga dari kota itu.”

Maka malaikat itu pun turun ke kota dan membawa ke surga, sebuah hati terbuat dari timah dan sebuah bangkau burung layang-layang kecil.

Lalu terdengarlah suara Tuhan, “Kau sudah memilih dengan tepat, karena dalam kebun-Ku, di dalam surga ini, burung layang-layang kecil ini akan menyanyi dalam kekekalan, dan dalam kota-Ku yang terbuat dari emas, Pangeran Bahagia akan hidup bersamanya.”