Rabu, 01 Juli 2015

Bab 7

“Aduhh..”

“Keparat... siapa...”

“Hei...”
Orang-orang yang sedang mengepung Teng Koan Su dan rekan-rekannya, tiba-tiba terdorong ke kiri dan ke kanan. Bu Khoa Sat Kiam berjalan acuh tak acuh, setiap kali langkah kakinya terhalang oleh orang di depan, dengan enteng dia mendorong mereka pergi.

Mereka yang terdorong pergi tentu saja merasa jengkel, namun kemarahan itu lenyap begitu mereka melihat siapa yang mendorong mereka. Wajah Bu Khoa Sat Kiam tidaklah menakutkan, namun saat itu sorot matanya terlihat bengis membuat yang melihat hilang semangatnya. Sebentar saja Bu Khoa Sat Kiam sudah sampai di garis terdepan.

Can Boan sedang memburu salah seorang pengepung, goloknya berkelebat menyambar pinggang lawan yang tak terjaga. Buru-buru lawannya menarik pedang hendak menangkis serangan Can Boan, ketika Bu Khoa Sat Kiam tiba dan dengan ringan menendangnya ke depan.

“Argghhh...”

Golok Can Boan menebas pinggang lawan tanpa ampun, kejadian ini membuat Can Boan termangu untuk beberapa saat. Tanpa dia duga serangannya berhasil mendarat dengan telak. Mata Can Boan pun dengan cepat mengawasi keadaan di sekitarnya dan terbentur pada Bu Khoa Sat Kiam. Belum sempat dia membuka mulut untuk bertanya, pedang Bu Khoa Sat Kiam sudah bergerak menusuk dengan cepatnya.

“Aihh...”, seru Can Boan berteriak kaget sambil melemparkan diri menyusut ke belakang.

Serangan itu datang dengan cepat, jauh sebelum mata pedang datang hawa serangan sudah terasa dingin menyengat membuat jantungnya berdebaran. Bu Khoat Sat Kiam tidak membuang waktu, sambil mengejar Can Boan yang melemparkan diri ke belakang, pedangnya bergerak menyerang ke kiri dan ke kanan. Seperti angin putting beliung Bu Khoat Sat Kiam terjun ke tengah-tengah lawan.

“Liem Tsiang Poo, tarik mundur anak buahmu!”, seru Bu Khoat Sat Kiam sembari menyerang lawan.

Kedatangan Bu Khoa Sat Kiam membuat terkejut baik lawan maupun kawan. Medan pertempuran berubah dalam waktu singkat. Garangnya Bu Khoa Sat Kiam seperti pusaran air yang menghisap lawan di sekelilingnya, dalam satu tarikan nafas, 3-4 jurus serangan mengalir tanpa jeda, menghantam ke empat penjuru mata angin. Dalam waktu singkat 4 orang rekan Teng Koan Su sudah mendapatkan luka baru di tubuhnya. Tetapi mereka bukan orang yang baru terjun dalam dunia persilatan, menghadapi perubahan yang terjadi dengan cepat, mereka cepat pula bisa menyesuaikan diri.

Setidaknya Bu Khoa Sat Kiam memerintahkan Liem Tsiang Poo untuk tidak ikut mengeroyok, sehingga Teng Koan Su dan rekan-rekannya pun beralih mengonsentrasikan perlawanan mereka terhadap lawan yang baru tiba.

Sejenak lamanya pertarungan berjalan sengit, namun setelah lewat belasan jurus Bu Khoa Sat Kiam berhasil menunjukkan kematangan ilmunya yang jauh berada di atas lawan. Meskipun melawan delapan orang, Bu Khoa Sat Kiam bisa dengan bebas melancarkan serangan, sementara lawannya dipaksa mati-matian mempertahankan diri.

“Kena !”, seru Bu Khoa Sat Kiam.

Can Boan yang paling garang di antara delapan orang itu tersurut mundur beberapa langkah sambil memegangi luka menganga di perutnya.

'Celaka...', keluh rekan-rekannya yang lain.

Tak seorang pun dari mereka bisa mundur untuk menolong Can Boan, jangankan menolong Can Boan, untuk mundur dan lari menyelamatkan nyawa mereka sendiri pun mereka tak mampu. Serangan Bu Khoa Sat Kiam seperti malaikat maut yang mengincar, sedikit saja mereka menunjukkan kelonggaran nyawa mereka jadi taruhannya.

Perubahan di medan pertempuran akhirnya terlihat juga oleh Sin Hong Kui dan Sin Goan Tosu yang saat itu membantu Bun Te Kun dengan mengacaukan konsentrasi lawan-lawannya. Bantuan Sin Hong Kui dan Sin Goan Tosu melonggarkan tekanan lawan pada Bun Te Kun dan setelah lewat belasan jurus mulai menunjukkan hasil. Tan Tioh bersaudara sudah terluka, demikian pula Tong Bak Chiu, namun dibandingkan dengan keadaan Teng Koan Su dan rekan-rekannya, perbedaannya sangatlah besar.

Teng Koan Su dan rekan-rekannya sudah mirip pelita yang hampir padam nyalanya, sementara meski berada di bawah angin, enam orang yang mengeroyok Bun Te Kun masih menyimpan daya juang yang besar.

Melihat kenyataan ini Sin Hong Kui mengeluh dalam hatinya.

“Kena !”, sekali lagi terdengar suara Bu Khoa Sat Kiam berteriak.

Kali ini Nyo San Peng yang dipaksa jatuh tak berdaya, urat kakinya ditebas putus oleh pedang Bu Khoa Sat Kiam. Tenaganya sudah terperas dan luka-luka kecil menghiasi tubuhnya, Nyo San Peng pun terguling, tak mampu lagi bertarung dengan satu kakinya tak bisa digerakkan.

Di saat yang sama Bun Te Kun berhasil melukai Auwyang Sin Kho, sebuah pukulannya mendarat telak di dada Auwyang Sin Kho.

Bu Khoa Sat Kiam dan Bun Te Kun seperti sedang berlomba, siapa yang bisa menjatuhkan lawan-lawannya lebih cepat.

Sin Goan Tosu yang melihat keadaan Teng Koan Su semakin memburuk, akhirnya melompat mundur dan berseru, “Sin ciangkun, Bun siauwhiap, aku akan membantu rekan-rekan yang di sana!”

Tanpa menunggu jawaban mereka berdua, Sin Goan tosu pun bergegas berlari cepat mendekati Teng Koan Su dan yang lain. Namun dengan satu tangan sudah patah, apalah artinya bantuan Sin Goan Tosu, seperti ngengat yang menerjunkan diri ke dalam api, datangnya Sin Goan Tosu hanya menambahkan satu lagi orang ke dalam daftar korban Bu Khoa Sat Kiam.

Tidak lama kembali lagi terdengar seruan Bu Khoa Sat Kiam, “Kena !”

Setiap kali Sin Hong Kui dan Bun Te Kun mendengar seruan Bu Khoa Sat Kiam, jantung mereka seperti digedor palu godam. Meskipun mereka berdua memeras tenaga berusaha menjatuhkan lawan-lawan mereka secepat mungkin, akhirnya mereka berdua pun harus menerima kenyataan.

Akhirnya Bun Te Kun pun berseru, “Sin toako, pergilah, biarkan aku menahan lawan di sini.”

“Bun siauwtee...”

“Jangan berpikir terlalu lama, cepatlah pergi! Jika tidak kami semua akan mati sia-sia!”, seru Bun Te Kun mendesak.

Sin Hong Kui tak mampu berpikir dengan jernih, tercabik antara rasa setia kawan dan akal sehat, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara Teng Koan Su berteriak, “SIN CIANGKUN PERGI!”

Akhirnya keraguan Sin Hong Kui pun hilang, sambil menggertakkan gigi dia pun melompat mundur dari pertempuran dan berlari cepat menghilang di tengah-tengah padatnya rumah-rumah penduduk. Bu Khoa Sat Kiam hanya mendengus melihat itu.

“Liem Tsiang Poo!”, seru Bu Khoa Sat Kiam tanpa menoleh sedikitpun, pedangnya masih terus bekerja menyerang ke empat penjuru.

Liem Tsiang Poo seperti baru tersadar dari tidur, cepat dia melesat mengejar Sin Hong Kui sambil berseru pada anak buahnya, “Kejar !”

Teng Koan Su dan Bun Te Kun hanya bisa melihat saja tanpa bisa banyak berbuat apa-apa. Teng Koan Su dan rekan-rekannya harus mati-matian untuk bertahan hidup, sementara Bun Te Kun meningkatkan kecepatannya, berusaha secepat mungkin merobohkan lawan-lawan yang mengepungnya.

Meski mengkhawatirkan keadaan Sin Hong Kui, Teng Koan Su mau tak mau harus mencurahkan segenap perhatiannya pada lawan yang ada di depan mata.

“Hmm... aku tidak ada urusan dengan kalian semua, siapapun yang hendak pergi tidak akan aku halangi.”, ujar Bu Khoat Sat Kiam sambil mengendurkan serangannya.

Bun Sam yang saat itu sudah kehabisan nafas, justru bangkit semangatnya mendengar bujukan Bu Khoa Sat Kiam, sambil menggeram dia mengerahkan segenap tenaganya yang terakhir, “Mulut busuk!”

Hebat benar serangan Bun Sam, sedikitpun dia tidak menyisakan tenaga untuk bertahan, tongkatnya berkelebat cepat, Ta Pa Kauw Cia (Memukul Pantat Anjing) inilah jurus ketiga dari Tah Kauw Pang Hoat (tongkat pemukul anjing) yang terkenal itu. Sebagai salah seorang anggota Kaypang yang memiliki kedudukan cukup tinggi, Bun Sam berhasil mempelajari Ilmu Tongkat Pemukul Anjing sampai tingkat ketiga. Kehebatan Tah Kauw Pang Hoat sudah diakui segenap orang persilatan, jurus tipuan yang membuat orang pusing, nama jurus yang membuat muka merah dan penggunaan sinkang yang membuat setiap serangan mengancam nyawa. Namun serumit apa pun tipuan, jika lawan sudah tahu lebih dulu apa gunanya?

Malang buat Bun Sam, Bu Khoa Sat Kiam memiliki pengalaman yang luas, jangankan jurus ketiga Tah Kauw Pang Hoat, dalam pengelanaannya, Bu Khoa Sat Kiam sudah pernah berbenturan dengan Tah Kauw Pang Hoat sampai jurus yang ketujuh. Maka dengan mudah Bu Khoa Sat Kiam memotong serangan Bun Sam.

Bun Sam menyerang dengan sekuat tenaga, meski dia bisa melihat serangannya dipatahkan lawan, sudah tidak ada tenaga lagi untuk menarik mundur serangan ataupun mengelak dari pedang lawan yang sekarang datang menyongsongnya.

“Sringgg.....”, suara mata pedang berdering mengiris tulang, kepala Bun Sam pun terbang melayang.

“Buat apa kalian mengantar nyawa sia-sia?”, dengus Bu Khoa Sat Kiam sambil menghindari semburat darah Bun Sam yang menyembur.

Untuk sesaat mereka semua diam tak bergerak, Bu Khoa Sat Kiam berdiri diam dengan pedang mengancam. Tiba-tiba Tan Kim mundur mendekati Nyo San Peng yang tergeletak tak berdaya.

“Teng totiang, maafkan aku tidak bisa membantu lebih jauh.”, ujar Tan Kim sambil memapah Nyo San Peng bangkit berdiri, lalu melompat pergi, menghilang di antara jajaran rumah di belakang mereka.

Teng Koan Su berdiri tertegun, kemudian perlahan-lahan dia berkata, “Sudahlah korban sudah terlalu banyak. Kenyataan ini tidak bisa dihindarkan...., sebaiknya kita semua mundur... Ui coanpeng, Sin Goan totiang, Can kauwsu... kalian pergilah lebih dahulu.”

Untuk sesaat tiga orang itu berdiri ragu, tapi menilik keadaan sendiri dan kemampuan lawan, mereka pun menyadari hampir-hampir tidak ada gunanya mereka ada di situ, hanya mengantarkan nyawa saja. Satu per satu, menghilang dalam kegelapan malam.

Tinggallah Teng Koan Su sendirian.

“Kau tidak pergi juga?”, tanya Bu Khoa Sat Kiam dingin.

“Mohon tanya, apakah taihiap ini yang dulu pernah dikenal dengan sebutan Bu Khoa Sat Kiam”, Teng Koan Su balik bertanya.

“Hemm...”, jawab Bu Khoa Sat Kiam membenarkan.

“Hahaha, bagus juga, tidak nyana orang macam boanpwee ini boleh bertemu dengan salah satu tokoh misterius dunia persilatan.”, ujar Teng Koan Su tertawa bergelak.

Bu Khoa Sat Kiam hanya diam saja, pedang di tangannya tiba-tiba mendengung ketika sinkang-nya disalurkan. Melihat gelagat dia merasa tak perlu lagi bertanya. Teng Koan Su pun merasa tidak perlu menjawab pertanyaan Bu Khoa Sat Kiam. Menyadari kematian sudah di depan mata, tiba-tiba Teng Koan Su justru merasakan kedamaian luar biasa. Teng Koan Su yang sudah bisa menerima kenyataan bergerak menyerang dengan ketenangan yang sempurna. Akhir pertarungan ini sudah pasti baginya, tapi bagi Teng Koan Su dia bertarung bukan untuk menang, melulu hanya memperpanjang waktu bagi Sin Hong Kui untuk melarikan diri.

Tidak seperti Bun Sam yang menyerang tanpa mempedulikan pertahanan, Teng Koan Su bertarung dengan hati-hati. Sayang lawannya adalah Bu Khoa Sat Kiam, sebelum 10 jurus berlalu Teng Koan Su sudah dipaksa mati-matian untuk bertahan.

Pada jurus ke 17, pedang Bu Khoa Sat Kiam berhasil memutuskan urat tangannya, tapi Teng Koan Su masih terus bertarung dengan gigih. Hanya dengan sebelah tangan dia bertarung, tak lama kemudian pada jurus yang ke-19 Bu Khoa Sat Kiam berhasil menyarangkan pukulan telak di dadanya. Teng Koan Su pun terhuyung mundur sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya, namun tosu tua itu tidak juga berhenti menyerang. Pada jurus yang berikutnya, pedang Bu Khoa Sat Kiam menyambar leher Teng Koan Su dan Teng Koan Su pun harus mengorbankan sebelah tangannya untuk menyelamatkan nyawa.

Dalam keadaan seperti itupun Teng Koan Su berusaha melancarkan tendangan berputar.

Bu Khoa Sat Kiam menggeram kesal, “Hmph! Tosu bau tak kenal diuntung!”

Serangan Teng Koan Su terlalu lemah, mudah saja bagi Bu Khoa Sat Kiam untuk menghindar. Sebenarnya mudah saja baginya untuk pergi meninggalkan Teng Koan Su untuk mengejar Sin Hong Kui, namun Bu Khoa Sat Kiam benar seorang pembunuh berdarah dingin, tanpa berkedip dia menebas Teng Koan Su menjadi dua.

Selesai dengan Teng Koan Su, Bu Khoa Sat Kiam meluruskan punggung sambil mengamati keadaan sekitarnya. Jika orang tidak melihat banjir darah di sekitar tempat itu, lagak Bu Khoa Sat Kiam tentu membuat mereka teringat seorang petani yang meluruskan punggungnya yang pegal setelah sekian lama mencangkul sawah. Alis Bu Khoa Sat Kiam pun berkerut, dalam keasyikannya dia lupa memperhatikan keadaan di sekitarnya. Bun Te Kun tak terlihat lagi di sana, demikian juga mereka yang mengepungnya, sementara tiga orang tergeletak tak bernyawa, Ong Co Go, Tan Tioh Giu dan Tong Bak Chiu.

“Hmm... begini lebih menarik..”, ujar Bu Khoa Sat Kiam sebelum kemudian tertawa tergelak.