Senin, 24 Agustus 2015

Bab 10 (part-1)

“Brakk !”, suara meja digebrak.

Hoo caysiang berdiri dengan mata mendelik, “Liem Tsiang Po, apakah kau sudah tidak sayang nyawa?”

“Ampun caysiang, laporan yang boanpwee terima itu sudah diyakinkan benar.”, ujar Liem Tsiang Po dengan gemetar.

“Jika benar demikian, bagaimana mungkin Bun Te Kun dan Sin Cit Seng bisa menghilang begitu saja?”, geram Hoo caysiang dengan wajah merah padam.

“Ampun caysiang, soal ini boanpwee benar-benar kecolongan, orang yang bertugas mencari jejak Bun Te Kun sudah terus mengikutinya sejak dia mengirimkan berita itu tapi beberapa hari kemudian, rupanya diam-diam Bun Te Kun dan Sin Cit Seng memisahkan diri dari rombongan itu, sementara wanita yang menyamar sebagai isteri Bun Te Kun tetap dalam rombongan. Begitu orang kami menyadari, cepat-cepat mereka menelusuri balik jalan-jalan yang sudah dilalui rombongan itu sebelumnya. Namun jejak Bun Te Kun dan Sin Cit Seng belum kami temukan kembali.”, lapor Liem Tsiang Po gemetaran.

“Goblok! Goblok! Goblok! Dasar mata kalian buta! Masakan di siang bolong, Bun Te Kun bisa lolos dari pengamatan kalian sambil membawa seorang anak kecil bersamanya?”, Hoo caysiang memaki Liem Tsiang Po habis-habisan.

“Hmm... sudahlah... Bu Khoa Sat Kiam sudah berangkat, sebaiknya kau kirim kabar pada orang-orangmu untuk bekerja sama dengannya. Beritahukan pada mereka, Bu Khoa Sat Kiam yang sekarang memimpin pencarian.”, geram Hoo caysiang sambil menahan amarah.

“Baik caysiang, akan boanpwee kerjakan.”, ujar Liem Tsiang Po sebelum buru-buru keluar dari ruangan.

-------------

Hari-hari terus berjalan dengan cepat, di bawah pimpinan Bu Khoa Sat Kiam, pemburu-pemburu milik Hoo caysiang bekerja keras mengendus-ngendus jejak-jejak yang ditinggalkan Bun Te Kun. Dengan jumlah orang yang dimiliki maka dalam waktu hitungan hari salah satu kelompok pemburu itu pun berhasil menemukan jejak Bun Te Kun.

Orang yang dicari itu sedang menunggang kuda dengan santainya di tengah jalan raya keluar dari gerbang selatan Kota Lamkhia, sementara Sin Cit Seng membonceng di belakangnya.

Tanpa dia sadari, beberapa orang sudah membayanginya sejak tadi. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, namun diam-diam mereka sudah saling memberi tanda dan dalam waktu yang singkat, keseluruhan tidak kurang dari 15 orang sudah membayangi, dalam jarak puluhan langkah dari sekitar Bun Te Kun.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”, bisik salah seorang pemburu itu pada seorang kawannya.

“Bu Khoa Kiam Hiap tidak jauh dari sini..., sebaiknya tembakkan tanda ke atas, kemudian kepung Bun Te Kun supaya tidak bisa lari lagi.”, jawab temannya.

“Apa kau yakin? Kata orang ilmu pedang Bun Te Kun terhitung nomor satu saat ini.”, bisik temannya lagi.

“Kita tidak perlu mengadu nyawa, asal bisa mengepungnya supaya tidak bisa lolos lagi, sekarang ini jumlah kita tidak kurang dari 15 orang. Jika kita diam saja, tentu Bu Khoa Kiam Hiap akan menyalahkanmu sebagai orang dengan pangkat tertinggi di sini.”, jawab temannya.

Orang yang rupanya berpangkat paling tinggi yang saat ini hadir itu pun menggigit bibir dan berpikir. Sebenarnya dalam hati dia cukup jeri dengan kebesaran nama Bun Te Kun, namun kata-kata temannya itu pun ada benarnya. Dia pun mulai menghitung-hitung kekuatan mereka, kemudian sambil memberanikan diri dia mulai memberi kode pada rekan-rekannya untuk bersiap.

Maka 15 orang itu pun bergerak menyebar, menyiapkan kepungan. Begitu melihat setiap orang sudah berada di posisinya, isyarat pun ditembakkan ke atas. Sejalur asap merah meluncur jauh ke atas sebelum meledak, memancarkan bunga-bunga api dengan berbagai warna.

Saat itu juga ke-15 orang itu bergerak serentak mengepung Bun Te Kun.

“Bun Te Kun, menyerahlah! Jangan berpikir untuk melawan, sebentar lagi Bu Khoa Kiam Hiap akan sampai di sini. Kau tidak punya kesempatan untuk menang!”, seru pimpinan kelompok itu yang merasa jeri juga dengan nama besar Bun Te Kun dan berusaha mendompleng nama besar Bu Khoa Sat Kiam untuk menakut-nakuti lawan.

Mendengar suara ledakan dan seruan orang, jalan yang tadi damai itu pun jadi ramai riuh orang berlarian menjauhkan diri. Sementara Bun Te Kun dengan lincah menenangkan kudanya yang melonjak, terkejut mendengar suara ledakan.

Sambil memasang senyum mengejek, Bun Te Kun melihat ke sekelilingnya, “Hemm... rombongan tikus berani juga bersuara besar di depan kongcu. Apakah kalian berani menakut-nakuti kongcu kalian bersandar nama Bu Khoa Sat Kiam?”

“Hmph! Bun Te Kun, kau memang bernyali besar. Kalau kau tidak takut pada Bu Khoa Kiam Hiap, bolehlah kau tunggu sampai dia datang.”, jawab salah seorang yang mengepung itu tidak kalah tajam.

“Haa haa haa haa haa.... pandai juga kau menjawab.”, ujar Bun Te Kun sambil tertawa berkakakan.

“Sayang kongcu kalian ini sedang banyak urusan. Aku hendak pergi, coba kulihat apakah kalian punya kemampuan untuk menahanku di sini.”, ujar Bun Te Kun sambil mencabut pedang dari sarungnya.

Dengan gerakan secepat kilat pemuda itu menggendong Sin Cit Seng yang diboncengnya kemudian melompat menerobos kepungan. Tentu saja mereka yang mengepungnya tidak diam saja, dengan cepat mereka bergerak, berusaha menutup jalan lari Bun Te Kun.

Sial bagi mereka yang kebetulan berada pada posisi menghalangi jalan pemuda itu, karena pedang pemuda itu bergerak terlalu cepat bagi mereka. Dalam sekejap, seorang dari pengepungnya pun sudah tergeletak tak bernyawa, sementara yang lain harus mati-matian mempertahankan diri.

Kurang dari 10 jurus, Bun Te Kun sudah berhasil menerobos kepungan itu, berlari seperti kuda liar Bun Te Kun melarikan diri dengan dikejar belasan orang yang tersisa.

“Bun Te Kun, pengecut kau! Jangan lari!”, ujar para pengejarnya sambil memaki-maki pemuda itu dengan berbagai ucapan yang memanaskan hati, namun Bun Te Kun hanya tertawa berkakakan membuat dada mereka terbakar.

Dalam waktu singkat yang dikejar dan yang mengejar sudah keluar dari tembok kota. Kira-kira beberapa tarikan nafas kemudian, sesosok bayangan lain sampai pula di tempat itu siapa lagi dia jika bukan Bu Khoa Sat Kiam. Setelah memeriksa sekilas, orang itu pun memasang telinga dan segera berkelebat cepat mengikuti arah perginya Bun Te Kun dan para pengejarnya.

Bun Te Kun berlari dengan cepat, sesekali dia berganti arah, menelusup ke ladang-ladang atau rumah-rumah orang yang meskipun semakin jarang tapi di sana-sini masih ada. Sesekali para pengejarnya pun kehilangan jejak, namun dalam waktu singkat mereka berhasil menemukan kembali bayangan pemuda itu.

Dalam waktu yang singkat mereka berlari puluhan li jauhnya, dari jalan yang makin lama makin sepi dari penduduk, sampai melewati jalan yang sedikit demi sedikit mulai makin rapat dengan rumah penduduk.

Pada satu saat Bun Te Kun berhasil menyelinap sejenak dari para pengejarnya. Sambil tertawa kecil pemuda itu memeriksa keadaaan di sekelilingnya, saat melihat tidak ada seorangpun di sana, dia melemparkan “anak kecil” dalam panggulannya ke dalam sumur yang ada di dekat situ. Tentu saja anak itu bukanlah Sin Cit Seng, juga bukan seorang anak kecil. Jika dilihat baik-baik, tidak lebih hanya sebuah boneka seukuran badan Sin Cit Seng. Boneka yang di pinggangnya sudah dibebani dengan besi itu pun dengan cepat tenggelam ke dasar sumur. Dengan cepat Bun Te Kun melepaskan baju luarnya, ternyata pemuda itu sudah mengenakan pakaian rangkap. Baju dan segala perlengkapannya, termasuk pedang yang dia bawa, dibuangnya pula ke dalam sumur itu.

Dalam waktu singkat Bun Te Kun pun sudah tampil dengan penampilan yang berbeda. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Bun Te Kun sudah menyelinap pergi lewat jalan lain, melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam satu kota kecil di selatan Lamkhia dan membaur dengan orang-orang yang ada di sana.

Para pengejarnya tidak berhasil menemukan jejak pemuda itu, karena yang mereka kejar adalah seorang laki-laki yang memanggul anak kecil. Tidak terbayang dalam benak mereka bahwa Sin Cit Seng sudah tidak bersama Bun Te Kun lagi. Jadi kalau demikian, di manakah Sin Cit Seng sekarang ini? Apakah Bun Te Kun meninggalkannya bersama dengan rombongan piauwsua tua itu?

------------